Ketegangan Sopir Angkot Pecah, Pendekatan Humanis TNI–Polri Kunci Kondusivitas?

Ketegangan Sopir Angkot Pecah, Pendekatan Humanis TNI–Polri Kunci Kondusivitas?
Suasana aksi berlangsung panas, orasi demi orasi dengan nada tinggi, meluapkan kegelisahan para sopir, bahkan ada yang menyerupai Hulk (foto:SiBro)

Spektroom - Ribuan sopir angkutan kota (angkot) dari berbagai trayek memadati kawasan Balai Kota Bogor, Kamis (22/1/2026). Aksi massa ini digelar sebagai bentuk penolakan terhadap rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang akan menghapus sebanyak 1.940 unit angkot karena faktor usia kendaraan.


Sejak awal, suasana aksi berlangsung panas. Orasi demi orasi disampaikan dengan nada tinggi, meluapkan kegelisahan para sopir yang merasa masa depan mereka kian terjepit oleh kebijakan yang dinilai tidak berpihak, bahkan ada yang menyerupai tokoh Hulk.

Koordinator aksi Trayek 03, Ganda, menyebut aksi ini sebagai puncak kekecewaan para sopir yang merasa tidak diajak bicara sebelum kebijakan besar tersebut digulirkan.
“Kami minta kebijakan penghapusan angkot tua itu tidak usah dilakukan. Kalau dihapus, anak istri kami mau makan apa? Kalau memang mau dihapus, tolong siapkan pekerjaan yang layak untuk kami,” ujar Ganda di sela-sela aksi.

Ketegangan sempat berada di titik rawan. Massa memadati ruas jalan di sekitar Balai Kota, sementara aparat keamanan bersiaga penuh untuk mencegah aksi meluas dan mengganggu aktivitas publik.
Namun situasi berubah ketika Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Rio Wahyu Anggoro bersama Dandim 0606/Kota Bogor turun langsung ke tengah massa. Bukan dengan tameng atau pengeras suara, melainkan dengan pendekatan yang tidak lazim di tengah aksi demonstrasi.

Keduanya memborong dagangan pedagang kaki lima di sekitar lokasi aksi, mulai dari penjual tahu goreng hingga kopi keliling (starling). Makanan dan minuman tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada para sopir angkot yang tengah beristirahat.

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Rio Wahyu Anggoro bersama Dandim 0606/Kota Bogor turun langsung ke tengah massa tanpa bawa tameng atau pengeras suara. (Foto:SiBro)

Langkah simpatik itu menjadi titik balik. Massa yang sebelumnya berorasi dengan nada tinggi mulai duduk tenang, menikmati hidangan. Aparat Polri dan TNI terlihat berbaur tanpa sekat, menciptakan suasana yang lebih cair dan menurunkan tensi secara perlahan.

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Rio Wahyu Anggoro menegaskan bahwa pendekatan humanis tersebut dilakukan untuk menjaga situasi tetap kondusif dan mencegah gesekan akibat kelelahan maupun emosi massa.

“Kami ingin memastikan kegiatan berjalan kondusif. Meski sedang berunjuk rasa, kebutuhan dasar seperti makan dan minum tetap menjadi perhatian. Dengan berbagi makanan dan kopi, kami berharap komunikasi tetap terjaga dan tidak terjadi gesekan,” ujarnya kepada wartawan.

Selain meredam ketegangan, pemborongan dagangan pedagang kaki lima juga dimaksudkan untuk membantu pelaku usaha kecil yang terdampak penutupan akses jalan selama aksi berlangsung.
“Kehadiran Polri bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga pelayanan kepada masyarakat dengan pendekatan persuasif dan humanis,” tegasnya.

Dalam pengamanan aksi tersebut, sebanyak 780 personel gabungan dari Polri, TNI, dan Brimob dikerahkan. Meski jumlah massa cukup besar, situasi tetap terkendali tanpa pengalihan arus lalu lintas.
“Alhamdulillah, aksi berjalan tertib. Jalan Juanda tetap bisa dilalui karena massa tidak turun ke badan jalan,” ungkap Kombes Rio.
(Polin - Lazuardi)

Berita terkait