Ketika Shandong Bertemu Kapuas: Cinta yang Menjembatani Dua Budaya
Kualakapuas-Spektroom : Di sebuah pagi yang hangat di Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, suasana di Kantor Urusan Agama (KUA) tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah tamu berkumpul menyaksikan sebuah peristiwa yang bukan sekadar akad nikah, melainkan pertemuan dua budaya yang dipersatukan oleh cinta dan keyakinan.
Di hadapan penghulu dan para saksi, seorang pemuda asal Rencheng, Kota Jining, Provinsi Shandong, Tiongkok, Zhang Haiyang—yang kini menggunakan nama Muhammad Fathan—mengucapkan ijab kabul untuk mempersunting Nadya Mahmudah, gadis asal Kapuas Timur.
Momen itu berlangsung sederhana, namun sarat makna. Perbedaan bahasa, kebiasaan, dan latar belakang budaya seakan melebur ketika kalimat akad terucap dengan lancar.
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi percakapan mendadak hening. Beberapa tamu tampak terdiam, larut dalam suasana haru yang menyelimuti prosesi sakral tersebut.
Nadya sesekali menundukkan kepala menahan air mata bahagia. Sementara itu, keluarga kedua mempelai saling bertukar senyum dan doa, menyambut awal perjalanan baru yang akan mereka tempuh bersama.
Jarak ribuan kilometer yang membentang antara Shandong dan Kapuas terasa tidak lagi berarti. Di tengah arus globalisasi yang mempertemukan manusia dari berbagai penjuru dunia melalui pendidikan, pekerjaan, hingga media sosial, kisah mereka menjadi gambaran nyata bagaimana hubungan antar manusia mampu melampaui batas geografis dan kebangsaan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Tengah, HM Yusi Abdhian, menilai pernikahan lintas negara seperti ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan kekayaan yang dapat memperkaya kehidupan keluarga.
Menurutnya, fenomena pernikahan lintas negara kini semakin sering terjadi. Karena itu, negara melalui Kementerian Agama hadir memastikan setiap proses berjalan sesuai syariat sekaligus memiliki kepastian hukum yang jelas.
Namun lebih dari aspek administrasi, kisah Zhang Haiyang dan Nadya menyimpan pesan budaya yang mendalam. Pernikahan mereka menjadi simbol perjumpaan dua tradisi yang berbeda, sekaligus bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan bersifat universal.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi sekat identitas, kisah dari Kapuas ini menghadirkan pelajaran sederhana: bahwa cinta, rasa hormat, dan komitmen dapat menjadi bahasa yang dipahami oleh siapa saja, dari tepian Sungai Kapuas hingga daratan Shandong. (Maturidi)