Ketika Suara RRI Menjadi Bagian dari Ingatan Pendengar Semarang

Ketika Suara RRI Menjadi Bagian dari Ingatan Pendengar Semarang
Generasi Z mengikuti program Cek Kesehatan Gratis pada puncak acara RRI Fest 2026 di Auditorium RRI Semarang, (Foto: Sigit)

Semarang – Spektroom: Bagi sebagian orang, radio mungkin hanya sebuah perangkat yang menemani waktu senggang. Namun bagi Drs. Soeyarto, BA, suara radio adalah bagian dari perjalanan hidupnya.

Di usia 82 tahun, Soeyarto masih setia mendengarkan siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang. Kecintaannya terhadap radio bahkan telah tumbuh sejak usia muda.

Pada 1998, ia mendirikan Paguyuban Pendengar dan Pemerhati RRI Semarang (Papperis), sebagai wadah bagi para pendengar yang memiliki perhatian terhadap keberadaan RRI Semarang.

Bagi Soeyarto, RRI bukan sekadar radio. Ada kenangan, informasi, hiburan, hingga cerita kehidupan yang dahulu begitu dekat dengan pendengarnya.

"Saya bangga kepada RRI Semarang karena siaran-siarannya mengena dan memang dibutuhkan masyarakat," ujar Soeyarto, Senin (7/9/2026).

Namun, di balik kebanggaan itu terselip kerinduan. Ia merasa sejumlah program yang dahulu menjadi unggulan kini sudah hilang atau berkurang frekuensinya.

"Dari muda sampai sekarang saya masih mendengarkan RRI Semarang. Namun sayang, banyak acara unggulan yang hilang atau berkurang frekuensinya. Dahulu ada sandiwara, siaran PSIS juga. Sekarang?" katanya.

Kerinduan serupa dirasakan Ratmanto (54), warga Beringin, Semarang. Baginya, siaran sepak bola RRI memiliki kenangan tersendiri.

Setiap kali PSIS Semarang bertanding, Ratmanto mengaku lebih senang mengikuti jalannya pertandingan melalui suara reporter RRI. Ia bisa tetap menikmati pertandingan sembari melakukan aktivitas lain.

"Saya lebih suka mendengarkan RRI Semarang setiap PSIS main. Tapi sayang sekarang sudah tidak ada. Apa sudah tidak ada reporter bolanya?" ujarnya.

Menurut Ratmanto, dahulu siaran pertandingan terasa hidup. Suara reporter berpadu dengan riuh suporter di dalam stadion, membuat pendengar seolah ikut berada di tengah pertandingan.

"Setiap PSIS bermain di Stadion Diponegoro, suara suporter masuk. Begitu juga ketika home base pindah ke Citarum. Namun semakin ke sini, ketika di Stadion Jatidiri, suasana pertandingan sudah tidak ada. Jadi tidak seru. Sekarang malah tidak ada siarannya sama sekali," tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang, Ahmad Hakim Rifa'i, S.Pd., M.Si., menilai tantangan RRI saat ini bukan semata mempertahankan pendengar lama, tetapi juga bagaimana membuat programnya kembali dikenal masyarakat.

Pandangan kritis juga disampaikan anggota Papperis, Drs. F Thomas Sumardiyono. Menurutnya, kecintaan masyarakat terhadap RRI Semarang sebenarnya belum luntur.Namun, kualitas sejumlah program perlu terus diperhatikan.

"Misalnya acara dialog. Judul topiknya menarik, tetapi nara sumbernya kurang. Bahkan ada siaran yang diulang. Masalah durasi juga, masa acara dialog interaktif hanya 30 menit, habis untuk laporan saja," katanya.

Kritik tersebut bukan berarti para pendengar meninggalkan RRI. Justru sebaliknya, suara-suara itu menunjukkan masih adanya perhatian dan harapan agar RRI Semarang tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Waktu memang berubah. Pendengar lama menua, sementara generasi baru tumbuh dengan gawai dan berbagai platform digital. RRI pun harus beradaptasi agar suara yang selama puluhan tahun menemani masyarakat tidak berhenti menjadi sekadar kenangan.

Kepala Stasiun LPP RRI Semarang, Bambang Dwiana, menyadari pentingnya mendekatkan kembali RRI dengan masyarakat.

Menurutnya, kekuatan RRI tidak hanya berada di ruang siaran, tetapi juga pada komunitas dan kelompok masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial.

"RRI bisa besar kalau kita mau ngopeni komunitas dan kelompok masyarakat lainnya untuk sama-sama memajukan Jawa Tengah dari berbagai aspek melalui siaran RRI Semarang," ujarnya.

Upaya itu salah satunya dilakukan melalui RRI Fest 2026 Semarang. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan RRI dengan berbagai komunitas, mulai dari olahraga, budaya, UMKM, kelompok disabilitas hingga perguruan tinggi.
Kolaborasi dengan KORMI, komunitas disabilitas, Rotary Club, puskesmas, perguruan tinggi dan berbagai mitra lainnya diharapkan semakin memperkuat hubungan RRI dengan masyarakat.

Sebab, bagi Soeyarto dan pendengar seperti dirinya, radio bukan hanya tentang frekuensi yang terdengar dari sebuah perangkat.
Radio adalah suara yang pernah menemani pagi, mengisi malam, membawa kabar pertandingan, menghadirkan cerita, dan diam-diam menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Dan mungkin, selama suara itu masih dinantikan pendengarnya, RRI Semarang masih memiliki alasan untuk terus menemukan cara agar tetap didengar.

Berita terkait

Sebanyak 754 Karya Wartawan Merekam Wajah Jakarta, Menyambut 500 Tahun Ibu Kota

Sebanyak 754 Karya Wartawan Merekam Wajah Jakarta, Menyambut 500 Tahun Ibu Kota

Jakarta – Spektroom: Setiap perubahan Jakarta meninggalkan cerita. Kepadatan jalan, perkembangan transportasi publik, perubahan wajah kampung, hingga berbagai persoalan perkotaan menjadi bagian dari perjalanan panjang ibu kota yang terus direkam oleh insan pers. Cerita tersebut dituangkan para jurnalis melalui tulisan, foto, audiovisual, dan berbagai karya jurnalistik lainnya. Tahun ini, sebanyak 754

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
Jateng Antisipasi Dampak Erupsi Anak Krakatau terhadap Perjalanan Kafilah MTQ Nasional

Jateng Antisipasi Dampak Erupsi Anak Krakatau terhadap Perjalanan Kafilah MTQ Nasional

Semarang – Spektroom: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengantisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap perjalanan kafilah dari berbagai daerah yang akan mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Semarang. Sedikitnya 10 provinsi tercatat memiliki perjalanan yang berkaitan dengan Bandara Soekarno-Hatta, baik sebagai titik transit maupun bagian dari rute menuju Jawa Tengah.

Sigit Budi Riyanto, Bian Pamungkas