Ketika Wayang Bertemu Dunia Digital: Mencari Jalan Baru Pendidikan Karakter

Oleh: M. Kabul Budiono Peneliti dan Praktisi Pewayangan, Pemerhati Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan

Ketika Wayang Bertemu Dunia Digital: Mencari Jalan Baru Pendidikan Karakter
Flayer Spektroom (Create ChatGPT)

Jakarta - Spektroom: Ada sebuah pertanyaan menarik untuk kita renungkan: masihkah wayang dapat menjadi sumber pendidikan karakter bagi generasi yang tumbuh di tengah dunia digital?

Pertanyaan ini penting, karena anak-anak dan remaja sekarang hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka belajar bukan hanya dari guru, orang tua, dan buku, tetapi juga dari telepon pintar, media sosial, video, gim, serta berbagai platform digital.

Informasi datang begitu cepat. Apa yang mereka lihat hari ini dapat membentuk cara berpikir, sikap, bahkan perilaku mereka.
Di tengah situasi tersebut, pendidikan karakter menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Anak-anak bukan hanya membutuhkan pengetahuan dan kecakapan teknologi, tetapi juga kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, keberanian, kepedulian, serta kemampuan mengendalikan diri.

Lalu, di mana posisi wayang?
Wayang dan Nilai Kehidupan
Wayang sering dipandang sebagai warisan budaya masa lalu. Padahal, UNESCO telah menetapkan wayang sebagai warisan budaya takbenda dari Indonesia. Karena itu, wayang tidak cukup hanya dilestarikan, tetapi juga perlu dikembangkan dan dimanfaatkan.

M. Kabul Budiono (Foto Dok Spektroom).

Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dan karakter tokohnya masih relevan dengan kehidupan sekarang, khususnya sebagai sarana pendidikan karakter.

Yudhistira, misalnya, dapat menjadi bahan pembelajaran tentang kejujuran dan tanggung jawab. Bima tentang keteguhan dan keberanian. Arjuna tentang pengendalian diri dan ketekunan. Nakula dan Sadewa tentang kesetiaan dan kebersamaan. Sementara Semar dapat menjadi simbol kesederhanaan dan kebijaksanaan.

Yang menarik, cerita wayang juga tidak selalu menggambarkan kehidupan manusia secara hitam-putih. Di dalamnya terdapat konflik, godaan, kesalahan, pilihan, dan konsekuensi.Karena itu, cerita wayang sebenarnya dapat menjadi ruang bagi anak untuk belajar memahami kehidupan.

Namun, persoalan pentingnya adalah bagaimana menghadirkan nilai-nilai tersebut kepada generasi yang sudah sangat akrab dengan dunia digital?

Apa Kata Hasil Penelitian?

Penelitian yang saya lakukan terhadap guru SMK Negeri di Kabupaten Banyumas menghasilkan beberapa temuan menarik.

Pertama, kearifan yang terdapat dalam cerita wayang berpengaruh positif secara langsung terhadap efektivitas pendidikan karakter. Temuan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam cerita wayang masih memiliki relevansi bagi pendidikan karakter.

Kedua, kemampuan guru dalam memotivasi siswa juga berpengaruh positif secara langsung terhadap efektivitas pendidikan karakter. Ini menunjukkan bahwa sebaik apa pun materi pembelajaran, manusia yang menyampaikannya tetap memiliki peranan penting.

Guru bukan sekadar penyampai materi. Guru membantu siswa memahami makna, menghubungkan cerita dengan kehidupan, membangun motivasi, sekaligus memberikan keteladanan.

Seorang guru, misalnya, tidak cukup hanya menceritakan bahwa Yudhistira dikenal sebagai tokoh yang menjunjung kejujuran. Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan apa arti kejujuran ketika ujian, ketika menemukan barang milik orang lain, atau ketika bersikap jujur justru membuat seseorang kehilangan keuntungan.

Dengan demikian, cerita tidak berhenti sebagai pengetahuan. Cerita menjadi bahan untuk belajar mengambil keputusan dalam kehidupan.

Temuan ketiga menjadi sangat penting dalam konteks generasi digital.

Penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian materi cerita wayang dengan media baru memberikan pengaruh langsung paling besar terhadap efektivitas pendidikan karakter dalam penelitian tersebut.

Bagi saya, temuan ini memberikan pesan sederhana tetapi penting: kearifan cerita wayang yang tercermin melalui tokoh-tokohnya perlu dihadirkan dalam bentuk yang relevan bagi generasi sekarang.

Generasi digital tidak selalu harus mengenal wayang melalui pertunjukan tradisional. Nilai-nilai dalam cerita wayang dapat hadir melalui video pendek, animasi, film, podcast, komik digital, gim edukatif, media sosial, maupun berbagai bentuk pembelajaran digital lainnya.

Kisah Bima, misalnya, dapat digunakan untuk membahas keberanian menghadapi tekanan teman sebaya.

Kisah Yudhistira dapat menjadi bahan diskusi mengenai kejujuran.
Kisah Semar dapat digunakan untuk membicarakan kesederhanaan, kebijaksanaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan cara seperti itu, media baru tidak harus menjadi lawan wayang. Media baru justru dapat menjadi jembatan bagi wayang untuk bertemu dengan generasi baru.
Yang Berubah Medianya, Bukan Nilainya

Ketika berbicara tentang digitalisasi wayang, mungkin muncul kekhawatiran bahwa nilai-nilai tradisionalnya akan hilang.
Kekhawatiran tersebut patut diperhatikan. Namun, kita perlu membedakan antara nilai dan cara menyampaikan nilai.

Kejujuran tidak menjadi kurang penting hanya karena disampaikan melalui video. Tanggung jawab tidak menjadi kuno karena dibicarakan di media sosial. Kesantunan tidak kehilangan maknanya hanya karena dikemas dalam animasi.

Yang berubah adalah medianya. Nilai yang diwariskan tetap dapat dipertahankan.

Justru tantangannya adalah bagaimana membuat kemasan digital tetap menarik tanpa menghilangkan kedalaman pesan moralnya.

Di sinilah kreativitas pendidik, budayawan, orang tua, dan para pembuat konten menjadi sangat penting.
Guru Tetap Penting
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kita mungkin bertanya: apakah teknologi pada akhirnya akan menggantikan peran guru?

Dalam pendidikan karakter, jawabannya tidak sesederhana itu.
Teknologi dapat membantu menyampaikan informasi. Teknologi juga dapat membantu membuat gambar, video, animasi, dan berbagai bahan pembelajaran.

Tetapi karakter tidak dibentuk hanya oleh informasi. Karakter tumbuh melalui keteladanan, dialog, pengalaman, dan hubungan manusiawi.

Seorang anak mungkin melihat banyak video tentang kejujuran. Namun, pengalaman melihat gurunya tetap jujur ketika menghadapi situasi sulit dapat memberikan pelajaran yang jauh lebih berarti.

Karena itu, guru tetap memiliki posisi penting dalam pendidikan karakter. Demikian pula orang tua dan lingkungan.

Apa yang dilihat anak dalam kehidupan sehari-hari sering kali lebih kuat daripada apa yang hanya mereka dengarkan sebagai nasihat.
Membawa Kearifan Masa Lalu ke Masa Depan

Dari penelitian tersebut, saya semakin melihat bahwa pelestarian wayang tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukannya. Kita juga perlu mempertahankan nilai dan kearifan yang terkandung di dalamnya.

Wayang akan tetap hidup apabila nilai-nilainya terus dipelajari, didiskusikan, direnungkan, dan diterapkan dalam kehidupan.
Karena itu, kita tidak perlu membawa generasi digital kembali ke masa lalu.

Yang perlu kita lakukan adalah membawa kearifan masa lalu untuk membantu mereka menghadapi masa depan.

Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Media komunikasi boleh berganti.
Tetapi manusia tetap membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kesetiaan, kesantunan, kepedulian, dan kebijaksanaan.

Nilai-nilai itulah yang membuat pendidikan karakter selalu relevan. Dan di situlah wayang menemukan ruang kehidupannya kembali.

Dengan demikian, wayang bukan sekadar tontonan dan bukan hanya warisan budaya. Wayang juga dapat menjadi sumber kearifan untuk membentuk karakter generasi digital.

Wayang dan dunia digital tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat dipertemukan agar kearifan masa lalu tetap memberi makna bagi kehidupan generasi masa depan.

Berita terkait

Menteri PU Dody Hanggodo, Dirjen SDA) Kementerian PU, Mayjen TNI (Purn.) Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, S.I.P., M.H.I.,

Teguran Menteri PU untuk Evaluasi Jajaran BBWS Citarum, Dirjen SDA Tegaskan Konteks, Jovandri: Jangan Framing Tanpa Fakta

Jakarta-Spektroom : Beredarnya video Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat memberikan teguran keras terkait persoalan jaringan irigasi di wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum mendapat perhatian publik. Di tengah ramainya potongan video yang beredar, konteks dan urutan komunikasi dalam peristiwa tersebut dinilai penting untuk dipahami secara utuh agar

Eva Moenandar, Rafles
Lansia Agar Tetap Aktif dan Produktif Dilingkungan Masyarakat

Lansia Agar Tetap Aktif dan Produktif Dilingkungan Masyarakat

Depok- Spektroom:Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melalui Dinas Sosial (Dinsos) terus mendukung berbagai kegiatan yang mendorong lansia agar tetap aktif, berdaya, dan produktif di lingkungan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos Kota Depok Iskandar Zulkarnain saat menghadiri kegiatan World Alzheimer’s Month yang diselenggarakan Alzheimer Indonesia (ALZI)

Asmari, Nurana Diah Dhayanti