Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Lantik Bunda Sinta sebagai Ketua YKI NTB
Tingginya angka kasus kanker, 90% dipengaruhi faktor gaya hidup dan lingkungan, dan menjadi perhatian serius karena kasus kanker Indonesia mengalahkan negara India, Rusia, Cina, Amerika Serikat.
Mataram-Spektroom : Ketua umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, melantik dan mengukuhkan Bunda Sinta Agathia M iqbal sebagai Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Nusa Tenggara Barat (NTB) periode 2026-2031, secara daring.
Usai dilantik, Bunda Sinta selaku Ketua YKI NTB mengungkapkan, upaya untuk menurunkan kasus kanker harus terus dimaksimalkan, karena isu kesehatan seperti kanker tidak bisa diserahkan hanya kepada ahli dalam hal ini dokter, namun perlu keterlibatan masyarakat. Karena itu ia menilai sistem kerjasama yang baik adalah kunci untuk langkah kerja yang akan ditempuh kedepan.
“Ini isu yang sangat besar, kita tahu resikonya kalau tidak ditangani dengan baik. Jadi kita harus kerjakan bareng bareng karena itu modal terbesar kita,” tegas bunda Sinta di Mataram, Jumat (17/4/2026).
Dalam sambutannya, Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, menegaskan momen ini merupakan titik penting perubahan, khususnya dalam hal penyesuaian terhadap perkembangan regulasi di bidang hukum dan perpajakan. YKI kini dituntut untuk bertransformasi menjadi organisasi yang lebih profesional, akuntabel, dan transparan, tidak hanya sebagai wadah sosial, tetapi juga sebagai institusi yang taat regulasi.
“Transformasi ini bukan sekadar perubahan administratif atau formalitas, tetapi menyangkut perubahan cara kerja, tata kelola organisasi, hingga pola koordinasi antara pusat dan daerah,” ujarnya.
Ke depan, YKI akan memperkuat sistem koordinasi antara pengurus pusat dan daerah melalui penerapan program nasional yang terstandar, namun tetap memberikan ruang bagi daerah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing wilayah. Setiap daerah diharapkan mampu mengidentifikasi permasalahan lokal serta menjalankan program secara mandiri dengan tetap dalam kerangka koordinasi nasional.
Selain itu, YKI juga menekankan pentingnya peningkatan profesionalitas dan akuntabilitas dalam pengelolaan organisasi. Setiap kegiatan dan program akan didorong untuk memiliki pertanggungjawaban yang jelas dan transparan, guna memastikan kepercayaan publik tetap terjaga.
Dalam kesempatan tersebut Aru Wisaksono Sudoyo juga menyampaikan bahwa tantangan kanker di Indonesia masih sangat besar. Menurut Sudoyo, tingginya angka kasus kanker, 90% dipengaruhi oleh faktor risiko gaya hidup dan lingkungan, dan menjadi perhatian serius dikarenakan kasus kanker Indonesia telah mengalahkan negara-negara besar India, Rusia, Cina, Amerika Serikat. Oleh karena itu, Sudoyo menyerukan upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi fokus utama yang harus diperkuat.
Ia mendorong YKI harus berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola hidup sehat serta deteksi dini kanker. Edukasi kepada masyarakat diyakini menjadi kunci dalam menurunkan angka kejadian kanker dalam jangka panjang.
“Penurunan angka kanker tidak hanya bergantung pada fasilitas pengobatan, tetapi justru pada upaya pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan secara masif dan berkelanjutan,” tegasnya.