Keunikan Masjid Agung Surakarta, Bangunan Bersejarah Peninggalan Mataram Islam
Spektroom – Banyak bangunan masjid di Jawa Tengah yang memiliki keistimewaan sejarah, sebagai tempat ibadah dan destinasi wisata religi. Salah satunya Masjid Agung Surakarta yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Islam, dibangun pada abad ke 18.
Saat Spektroom memasuki Masjid Agung Surakarta, kesan pertama adalah masjid dengan nuansa vintage yang kuat, megah dan berwibawa. Arsitektur Jawanya begitu khas, dengan atap sirap bertumpang dan tiang-tiang kayu. Hampir semua bagian bangunan masjid didominasi oleh bahan kayu jati yang kokoh.
Dari pintu masuk utama masjid disisi timur, Spektroom melewati gapura besar dan tinggi, langsung mengantar pemandangan dalam komplek masjid yang luas, lapang dan asri, semua tetap dengan nuansa vintage atau bangunan kuno.
Halaman disisi kanan dan kiri terlihat masih asli berupa lahan tanah pasir dan ditengahnya jalan beton menuju masjid. Terlihat pula beberapa bangunan di halaman masjid ini.
Tidak sedikit pengunjung masjid juga mendokumentasikan dengan foto maupun video sebagai kenangan atau dokumentasi pribadi.
“Kebetulan kami mau sholat sekaligus ikut kajian di masjid Agung. Jadi kami foto-foto dulu di dekat gapura dan halaman masjid untuk kenangan dan dokumentasi,” ungkap Alfarobi warga Karanganyar yang datang ke masjid Agung bersama keluarga, anak dan istrinya.
Walaupun sudah berusia ratusan tahun, bangunan masjid ini tetap terasa hidup. Bukan hanya bersejarah, tapi juga simbol syiar Islam yang terus berlanjut dari masa ke masa.
Di dalam kompleks Masjid Agung dapat dijumpai berbagai bangunan dengan fungsi kultural khas Jawa-Islam serta beberapa kelengkapan umum sebagai masjid Kerajaan.

Seperti dikutip dari web resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah visitjawatengah.jatengprov.go.id, berikut ini fungsi dan keunikan bangunan Masjid Agung Surakarta yang menjadi bagian dari Keraton Kasunanan Surakarta;
Menempati lahan seluas 19.180 meter persegi, bangunan Masjid Agung Surakarta memiliki arsitektur Jawa kuno, bergaya tajug yang beratap tumpang tiga dan berpuncak mustaka (mahkota).
Namun demikian untuk gapura utama masjid bergaya Arab Persia yang megah, berada di sebelah timur dengan satu pintu utama yang besar, diapit dua pintu kecil di sisi kiri dan kanan.
Bangunan utama masjid ditopang empat sokoguru (tiang utama) dengan 12 saka rawa (tiang tambahan), mirip dengan bangunan rumah joglo.
Terdapat mihrab dan mimbar untuk menyampaikan ceramah keagamaan. Dari luar, bentuk atap masjid ini mirip dengan Masjid Agung Demak yakni beratap limasan yang bersusun.
Ruangan lain yakni Pawestren sebagai tempat salat untuk wanita dan balai rapat.
Di halaman masjid terdapat Pagongan di sisi utara dan selatan, yakni berupa pendapa, sebagai tempat gamelan keraton diletakkan dan dimainkan saat perayaan Sekaten. Terdapat pula Istal dan garasi kereta untuk raja ketika salat Jumat dan gerebeg. Kemudian, menara adzan yang mempunyai corak arsitektur terinsirasi dari Qutub Minar di Delhi, India.
Ada pula jam istiwak yang menjadi bagian untuk menentukan waktu salat berdasarkan bayangan sinar matahari. Masjid ini juga memiliki menara yang terletak di bagian timur, dibangun pada tahun 1901. Arsitekturnya bergaya menara New Delhi, India
Selain itu terdapat bangunan Gedang Selirang, yang dipergunakan untuk para abdi dalem yang mengurusi masjid.