KNKT Ungkap Penyebab Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo di Bekasi

KNKT Ungkap Penyebab Kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo di Bekasi
Petugas sedang evakuasi para korban ( jpn.co)

Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap sejumlah temuan teknis pada kecelakaan antara Kereta Api Listrik (KRL) dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur, pada akhir April lalu. KNKT menganalisis dua tabrakan yang terjadi sebagai insiden terpisah.Hal tersebut disampaikan Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat kerja Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan RI (Menhub) Dudy Purwagandhi hingga perwakilan Kereta Api Indonesia (KAI).

Dalam sidang tersebut, Soerjanto menjelaskan data dari black box taksi listrik bernomor polisi B 2864 SBX tidak menunjukkan adanya kesalahan sistem sebelum tabrakan pertama terjadi."Data dari perangkat pemantauan kendaraan B 2864 SBX tidak menunjukkan adanya kesalahan sistem berdasarkan data yang dikumpulkan dalam satu jam sebelum kejadian," ujar Soerjanto, dalam keterangan tertulis yang diterima Spektroom, Minggu (24/5/2026).

Soerjanto menjelaskan, berdasarkan data black box, taksi melaju normal dengan kecepatan sekitar 15 km/jam saat menuruni jalan menuju area perlintasan rel. Pada saat itu, posisi transmisi berada di mode D (Drive atau Mengemudi).Kemudian kendaraan dipindahkan ke posisi N (Neutral atau Netral) dan meluncur bebas dengan kecepatan antara 3 hingga 7 km/jam.

Selain persoalan taksi listrik, sidang juga menyoroti alasan kereta Argo Bromo Anggrek tetap melaju meski terdapat kereta lain yang berhenti di jalur yang sama. Soerjanto mengatakan , tabrakan antara taksi listrik dan KRL tujuan Jakarta terjadi pada pukul 20.48.29.Namun pada pukul 20.50.43, kereta Argo Bromo Anggrek masih menerima sinyal hijau untuk melintas di Stasiun Bekasi. Hanya dalam waktu 3 menit 43 detik setelah tabrakan pertama, kereta tersebut menabrak rangkaian PLB 5568A yang sedang berhenti di Bekasi Timur.

KNKT juga mencatat PLB 5568 mengalami keterlambatan sekitar delapan menit dari jadwal, sementara kereta Argo Bromo Anggrek justru melaju tiga menit lebih cepat dari jadwal kedatangannya di Stasiun Bekasi Timur.

Selain sistem sinyal utama, Soerjanto juga mengungkap adanya masalah pada sinyal tambahan di lokasi kecelakaan. Menurut penjelasan KNKT, kecelakaan terjadi pada malam hari di area yang dipenuhi sumber cahaya dari pasar dan rumah warga sekitar rel. Ya"Masinis mengalami kesulitan membedakan sinyal sebenarnya karena cahaya putih di sekitar berasal dari kios pasar dan rumah-rumah di dekat rel," jelas Soerjanto.

Sidang juga menyoroti lambatnya komunikasi antar otoritas pengatur perjalanan kereta. Menurut Soerjanto, kereta perawatan PLB 5568 dan kereta Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali unit operasional yang berbeda."PK (Pengendali Kereta) Selatan harus melapor ke supervisor terlebih dahulu, kemudian supervisor menyampaikan ke PK Timur, dan setelah itu PK Timur baru dapat menghubungi masinis,"Menurut KNKT, rantai komunikasi tersebut menyebabkan keterlambatan penanganan dan menjadi aspek yang perlu diperbaiki ke depannya.

KNKT menjelaskan sistem pengaturan perjalanan kereta di Stasiun Bekasi hanya bertanggung jawab hingga titik 14T. Akibatnya, sinyal J12 masih dapat menunjukkan lampu hijau meski PLB 5568 masih berhenti lebih jauh di jalur

Berita terkait

Asril SE Dorong Kemandirian Perikanan Sumbar, Ditengah Tingginya Harga Pakan

Asril SE Dorong Kemandirian Perikanan Sumbar, Ditengah Tingginya Harga Pakan

Bukittinggi-Spektroom : Potensi sektor perikanan di Sumatera Barat dinilai sangat besar dan menjanjikan. Namun, tingginya harga pakan ikan masih menjadi tantangan utama yang dihadapi para pembudidaya. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius melalui dukungan nyata pemerintah guna memperkuat kemandirian sektor perikanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha budidaya. Anggota DPRD Provinsi

Wiza Andrita, Rafles