Komisi VII DPR RI Dorong Industri Jamu Nasional Naik Kelas Lewat Riset Ilmiah

Komisi VII DPR RI Dorong Industri Jamu Nasional Naik Kelas Lewat Riset Ilmiah
Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nur Santi, M.Sc., (tengah) didampingi Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, dan Dirjend Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian. Taufik Bawazir memberikan penilaian terhadap produk Jamu. (Foto : Ning Biantoro).

Spektroom – Komisi VII DPR RI menilai PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk berhasil menjadi contoh transformasi industri jamu nasional menuju produk kesehatan yang berbasis riset ilmiah dan standar farmasi modern.

Penilaian tersebut disampaikan saat kunjungan kerja spesifik ke pabrik Sido Muncul di Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (23/1/2026).

Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nur Santi, M.Sc., menyampaikan bahwa konsistensi Sido Muncul dalam mengembangkan jamu berbasis penelitian menjadi modal penting bagi penguatan industri herbal Indonesia di tengah persaingan global.

Menurut Evita, pengelolaan industri jamu yang mengedepankan riset, inovasi teknologi, serta tata kelola yang profesional membuktikan bahwa produk berbasis kearifan lokal mampu bersaing dengan produk farmasi modern.

“Kami melihat langsung bagaimana jamu dikembangkan dengan pendekatan ilmiah, terstandar, dan tetap menjaga nilai tradisi. Ini menjadi contoh konkret bagaimana industri jamu bisa naik kelas,” ujarnya.

Selain aspek inovasi, Evita menyoroti penerapan teknologi produksi di Sido Muncul yang tidak mengesampingkan peran tenaga kerja. Efisiensi dan modernisasi dinilai berjalan seimbang dengan keberpihakan terhadap sumber daya manusia.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menjelaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap jamu dibangun melalui proses panjang yang berbasis pembuktian ilmiah.

Sejak 1985, Sido Muncul mulai menerapkan standar produksi menyerupai industri farmasi, termasuk uji toksisitas dan uji klinis terhadap produknya.
Ia menyebutkan, pada 2003 Sido Muncul melakukan uji klinis Tolak Angin yang menunjukkan produk tersebut aman dikonsumsi tanpa efek samping pada organ vital. Hasil riset tersebut kemudian diperkenalkan ke dunia akademik dan tenaga medis.

“Dengan riset, jamu tidak lagi dipandang sekadar warisan tradisi, tetapi sebagai produk kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya.

Kunjungan kerja spesifik ini dihadiri jajaran Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian.

DPR RI berharap sinergi antara pemerintah, industri, dan dunia akademik dapat terus diperkuat guna mendorong daya saing industri jamu nasional di pasar global.

Berita terkait

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif  di Aceh

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif di Aceh

Spektroom – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan permanen Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh sebagai bagian dari pemulihan pasca bencana banjir bandang sekaligus upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh diharapkan menjadi simpul pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak

Nurana Diah Dhayanti