KRL Solusi BBM Mahal, Wacana Tarif Berbasis NIK Mengintai
Jakarta - Spektroom : Ditengah rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM nonsubsidi) dan pembatasan BBM subsidi seringkali meningkatkan harga barang dan biaya distribusi, memicu inflasi dan peningkatan biaya hidup yang pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat.
Dalam kondisi ini, KRL Commuter Line menjadi alternatif transportasi yang sangat strategis dan efisien bagi masyarakat, di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi ( Jabodetabek)
Layanan KRL saat ini jauh lebih nyaman dan modern dibandingkan dulu, menjadikannya transportasi umum yang andal tidak hanya membantu keuangan pribadi menghindari kemacetan parah di jalan raya sekaligus mendukung efisiensi energi nasional.
Sebagai moda berbasis listrik, KRL menghasilkan emisi gas rumah kaca (CO2) yang jauh lebih sedikit, berkontribusi pada penurunan polusi udara.
VP Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengguna layanan KRL Commuter Line terus meningkat.
Pada 2022, jumlah penumpang sebesar 1.599.107 orang. Pada 2023, angkanya meningkat menjadi 2.676.363 orang, kemudian tumbuh mencapai 3.377.633 pengguna pada 2024.
Tren positif ini berlanjut pada 2025 dengan total 3.531.311 pengguna. Pada Januari hingga Maret 2026, volume penumpang telah mencapai 873.658 orang.
"Pertumbuhan angka pengguna layanan KRL yang signifikan ini membuktikan bahwa layanan kereta api semakin menjadi pilihan utama," ujar Anne, di Jakarta, Minggu (12/4/2026).
Sementara itu, wacana penerapan tarif berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) atau subsidi tepat sasaran menimbulkan kekhawatiran akan adanya perlakuan berbeda antar penumpang KRL Commuter Line
Kebijakan yang masih dalam kajian ini memicu pro dan kontra. Dampak utamanya adalah penyesuaian anggaran harian bagi pengguna setia.
"Tiap hari naik KRL ke Jakarta. Murah meriah bagi kita yang pas - pasan penghasilannya " kata Ibrahim warga Depok kepada Spektroom, di Stasiun Manggarai, Minggu (12/4/2026) malam.
Ibrahim salah satu pengguna setia moda angkutan rel listrik ini memiliki ikatan emosional yang tinggi karena KRL telah menjadi bagian dari aktivitas harian mereka.
Masyarakat berharap agar kebijakan subsidi KRL benar-benar menjamin peningkatan layanan dan tidak sekadar membebani masyarakat kelas menengah ke bawah. Pengguna tetap berharap tarif dasar tidak naik drastis.
Mereka mengharapkan perbaikan layanan sebanding dengan kenaikan harga, yaitu penambahan jumlah gerbong untuk mengurangi kepadatan (desak - desakan) dan peningkatan kenyamanan di stasiun dan dalam kereta (AC, toilet, kebersihan).