Kukusien Ajah: Irfan Mengukus Rezeki Pagi Hari di kota Pontianak

Kukusien Ajah: Irfan Mengukus Rezeki Pagi Hari di kota Pontianak
Irfan sedang membalik balik ubi kukusnya agar masak merata. Inilah lapak meja Irfan dipinggiran jalan gajah Mada Pontianak. Foto: Apolo/Spektroom

Pontianak - Spektroom : Pagi di Jalan Gajah Mada Pontianak selalu dimulai dengan hiruk pikuk kendaraan, orang berangkat kerja, dan aroma jajanan tradisional yang mengepul dari pinggir jalan. Di antara deretan pedagang kaki lima, ada 1 lapak sederhana dengan spanduk bertuliskan “Kukusin Aja”. Di sanalah Irfan mengais rezeki setiap hari.

Di atas sebuah meja sederhana, 2 kukusan persegi 4 terus mengepulkan uap panas.Di sampingnya berdiri tabung gas elpiji 3 kilogram yang menjadi “mesin utama” usahanya. Dari kukusan itulah Irfan menjajakan berbagai umbi-umbian dan kacang-kacangan yang digemari pembeli pagi hari.

“Mulai buka jam 06.30 sampai 08.30 saja. Setelah itu tutup, karena tempat ini area parkir supermarket dan ruko yang sudah mulai buka,” kata Irfan, Rabu (11/03/2026).

Waktu berjualan memang singkat, hanya sekitar 2 jam. Namun dalam waktu tersebut, Irfan bisa meraih penghasilan yang cukup menjanjikan. Dalam sehari, pendapatannya berkisar Rp300 ribu - Rp500 ribu.

Menu yang dijual Irfan cukup beragam, semuanya serba kukus. Ada ubi rambat kuning, ubi ungu, talas atau keladi, ubi kayu, pisang kepok atau pisang nipah, hingga kacang tanah dan kacang bulu (kedelai).

Semua bahan sudah dipersiapkan dari rumah, dibersihkan dan dipotong dengan ukuran tertentu.Setiap potongnya diberi label harga sederhana, Rp2.500. Irfan sengaja tidak membawa bahan terlalu banyak. Biasanya hanya sekitar 1 hingga 2 kilogram untuk setiap jenis. Jika habis, itu sudah cukup baginya.

“Biar cepat habis dan selalu fresh,” ujarnya sambil tersenyum. Lapak “Kukusin Aja” milik Irfan sebenarnya sangat sederhana. Tidak ada gerobak besar atau kios permanen.

Ia hanya menggunakan mobil pribadinya untuk membawa semua perlengkapan jualan—mulai dari meja, kukusan, hingga bahan baku. Mobil itu sekaligus menjadi “gerobak berjalan” yang memudahkan ia datang dan pergi setiap pagi.

Di sepanjang Jalan Gajah Mada, Irfan bukan satu-satunya pedagang. Deretan penjual kue tradisional dan minuman juga ikut meramaikan pinggir jalan tersebut setiap pagi. Namun spanduk “Kukusin Aja” dengan kukusan yang mengepul membuat lapaknya mudah dikenali.

Bagi Irfan, usaha ini sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia mengaku telah menjalani usaha berjualan kukusan sejak sebelum berkeluarga, dan tetap menekuninya hingga sekarang.

Selain berjualan kukusan, Irfan juga memiliki usaha lain di rumah. Bersama sang istri, ia membuka usaha laundry kecil-kecilan untuk menambah penghasilan keluarga.

Menurut Irfan, usaha sederhana yang ia jalani memang tidak membuatnya menjadi orang kaya. Namun penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai kehidupan keluarga.

Di tengah persaingan usaha dan tantangan ekonomi, Irfan memilih jalan sederhana: mengukus rezeki di pagi hari. Dari 2 kukusan dan lapak kecil di pinggir Jalan Gajah Mada, ia membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi bisa menjadi sumber cuan dan harapan bagi keluarga.

Berita terkait

Menteri PKP dorong kolaborasi untuk percepat pembangunan hunian rakyat

Menteri PKP dorong kolaborasi untuk percepat pembangunan hunian rakyat

Jakarta  -  Spektroom : Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pengembang, dan sektor swasta untuk mempercepat pembangunan hunian bagi masyarakat. “Ekosistem perumahan saat ini sehat karena tidak ada monopoli. Pengembang memiliki pilihan terhadap perbankan, bank memiliki pilihan terhadap pengembang, dan konsumen pun

Nurana Diah Dhayanti