Lansia, Jejak Pengabdian yang Mengantarkan Jakarta Menuju Kota Global
Jakarta - Spektroom : Ratusan warga lanjut usia (lansia) dari lima wilayah Jakarta memeriahkan peringatan Hari Lansia Internasional 2026 di Plaza Monas sisi Selatan, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan yang diisi senam sehat, penyuluhan, dan pemeriksaan kesehatan ini menjadi momentum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan penghormatan atas pengabdian para lansia sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menyongsong perayaan lima abad Kota Jakarta pada 2027.
Peringatan Hari Lansia Internasional 2026 itu bukan sekadar pertemuan untuk bersenam atau memeriksakan kesehatan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang penghormatan bagi mereka yang telah memberikan sumbangsih bagi perkembangan Jakarta hingga mencapai berbagai kemajuan seperti sekarang.
Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta, Iqbal Akabrudin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa kontribusi warga lansia tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pembangunan ibu kota.
Menurutnya, berbagai capaian Jakarta sebagai kota global merupakan bagian dari perjalanan panjang yang turut dibentuk oleh pengabdian generasi sebelumnya.
“Sumbangsih warga lansia bagi Kota Jakarta tidak dapat dipisahkan dari berbagai capaian yang kita banggakan saat ini,” ujarnya.
Jakarta kini terus berupaya memperkuat posisinya di tingkat dunia. Sejumlah capaian yang dipaparkan Iqbal, di antaranya masuk dalam daftar 53 Best Cities World 2026, menempati posisi ke-17 dunia dalam bidang sistem transportasi publik dan menjadi kota teraman kedua di Asia Tenggara.
Namun, di balik deretan pencapaian tersebut, ada pesan yang tidak boleh terabaikan: kemajuan kota harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap orang-orang yang telah ikut membangunnya.
Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perhatian terhadap lansia juga menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antargenerasi. Mereka bukan sekadar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian, melainkan warga yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan nilai kehidupan yang patut dihargai.
Iqbal mendorong organisasi lansia, seperti Badan Perlindungan (BP) Lansia Jakarta dan Forum Komunikasi Lanjut Usia (FKLU), untuk menyatukan langkah menyongsong usia lima abad Jakarta pada 2027.
“Kami berharap lansia turut ambil bagian dan tercatat dalam sejarah kemeriahan perayaan HUT ke-500 Kota Jakarta,” katanya.
Harapan itu membuka ruang bagi para lansia untuk tetap terlibat dalam kehidupan kota. Usia yang bertambah tidak semestinya menjadi alasan untuk menjauhkan mereka dari ruang publik maupun kegiatan sosial.
Penghormatan terhadap lansia, lanjut Iqbal, juga tidak cukup diwujudkan melalui seremoni tahunan. Sikap menghargai harus hadir dalam keseharian, dimulai dari lingkungan keluarga hingga fasilitas umum.
Memberikan tempat duduk kepada lansia di kendaraan umum, membantu mereka menyeberangi jalan, memastikan akses layanan publik yang mudah, menyapa dengan santun, hingga meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka merupakan bentuk perhatian sederhana yang bermakna. Di tengah kesibukan kota, tindakan kecil tersebut dapat menjadi cermin kepedulian masyarakat terhadap sesama.
Suasana Plaza Monas pada peringatan itu diisi berbagai kegiatan yang diselenggarakan BP Lansia bersama Yayasan Jantung Indonesia. Ratusan lansia dari lima wilayah Jakarta mengikuti senam sehat, penyuluhan, serta pemeriksaan kesehatan.
Kegiatan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa penghormatan kepada lansia perlu disertai perhatian terhadap kesehatan dan kualitas hidup mereka.
Menjelang usia 500 tahun pada 2027, Jakarta tidak hanya memiliki pekerjaan rumah untuk memperkuat infrastruktur dan daya saing global. Kota ini juga perlu memastikan bahwa warganya yang telah memasuki usia senja tetap memperoleh ruang, akses pelayanan, dan kesempatan untuk berpartisipasi.
Sebab, keberhasilan sebuah kota bukan hanya diukur dari pencapaian dan reputasinya di mata dunia, tetapi juga dari caranya menghargai generasi yang telah lebih dahulu menapaki perjalanan panjangnya.