Lomba Panahan Tradisional Menjadi Ajang Pelestarian Budaya Masyarakat Marind Di Merauke

Lomba Panahan Tradisional Menjadi Ajang Pelestarian Budaya Masyarakat Marind Di Merauke
Kegiatan lomba panahan tradisional di Merauke. (foto: humas panpel HUT RI 2026)

Merauke-Spektroom : Lomba panahan tradisional dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Lapangan Kapsul Waktu Merauke, Rabu, 12 Agustus 2026, menjadi ajang pelestarian budaya masyarakat Marind di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.

Lomba panahan tradisional menjadi salah satu cara menonjolkan warisan budaya dan kearifan lokal masyarakat Marind, agar tidak punah oleh perkembangan zaman kata Mike Christian Walinaulik selaku koordinator perlombaan panahan.

“Melalui momentum HUT RI ini kita mau menonjolkan nilai budaya Merauke. Untuk perlombaan tahun ini, peserta dari 11 kelurahan di Distrik Merauke, serta dari distrik terdekat juga kita undang. Setiap kelurahan ada sepuluh peserta, tetapi kalau ada masyarakat yang mau datang dan ikut, kami persilahkan,” ujarnya.

Menurutnya, panahan tradisional memiliki kekhasan tersendiri karena berkaitan dengan kebiasaan berburu serta penggunaan bahan-bahan alam sebagai perlengkapan memanah. Busur dan anak panah yang digunakan peserta dibawa sendiri.

“Kekhasan di sini mungkin kita bisa lihat saudara kita dari Suku Marind Merauke. Mereka punya busur dan anak panah yang panjang dan besar, terbuat dari bambu. Kalau suku lain mungkin terbuat dari bahan alam lain seperti rotan dan sebagainya,”kata Mike.

Mengenai teknis pelaksanaan lomba yakni setiap peserta mendapat tiga kesempatan memanah, dengan nilai dihitung berdasarkan akumulasi poin dari anak panah yang mengenai lingkaran target.

"Poin di tengah itu dari 10 sampai 100. Kalau kena di tengah itu 100, terus 90 dan kemudian dihitung akumulasi poin sasaran selama tiga kali memanah. Pemenang dengan nilai poin tertinggi akan mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dan ada juga hadiah doorprize,” tutur Mike.

Iapun berharap, Pelestarian panah tradisional dijadikan bagian penting untuk menjaga identitas budaya leluhur, merawat kearifan lokal, serta melatih nilai-nilai mental seperti fokus, ketenangan jiwa, dan keseimbangan raga. Di berbagai daerah seperti Papua dan Nusantara secara luas, panah bukan sekadar alat berburu atau berperang di masa lalu, melainkan simbol kehormatan dan warisan.

Berita terkait

Dari Benih Ikan ke Ketahanan Pangan, Tangkiling Disiapkan Jadi Penggerak Perikanan Palangka Raya

Dari Benih Ikan ke Ketahanan Pangan, Tangkiling Disiapkan Jadi Penggerak Perikanan Palangka Raya

Palangka Raya-Spektroom : Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap ikan sebagai sumber pangan dan mata pencaharian pembudidaya, kawasan Tangkiling menyimpan peluang yang tidak kecil. Bukan hanya soal kolam dan produksi benih, tetapi bagaimana perikanan air tawar dapat tumbuh menjadi sumber pangan sekaligus penggerak ekonomi warga. Potensi itulah yang kini hendak diperkuat Pemerintah

Polin, Rafles
Dekranasda Maluku Pamerkan Kekayaan Seni, Budaya dan Produk UMKM di Jakarta

Dekranasda Maluku Pamerkan Kekayaan Seni, Budaya dan Produk UMKM di Jakarta

Ambon-Spektroom : Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Maluku di bawah kepemimpinan Ketua Dekranasda, Maya Beby Lewerissa, turut mengambil bagian dalam ajang Discover Nusantara 2026 yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan seni, budaya, kerajinan, kuliner, serta potensi ekonomi kreatif Maluku kepada masyarakat nasional

Polin, Pelinus Latuheru