Marketer Bukan lagi Tukang Iklan

Marketer Bukan lagi Tukang Iklan
Flyer Spektroom

Oleh: Jeny Kamase - Guru Besar FEB UMI Makasar

Spektroom - Perubahan lanskap bisnis di era digital telah membawa dampak signifikan terhadap peran pemasaran dalam organisasi.

Jika dahulu marketer identik dengan pembuat iklan, pengelola promosi, dan penjaga citra merek, maka hari ini peran tersebut tidak lagi memadai.

Dunia usaha kini menuntut marketer untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar menjual produk, tetapi ikut membentuknya.

Inilah yang melahirkan paradigma baru: marketer harus menjadi product thinker.

Selama bertahun-tahun, pemasaran diposisikan sebagai fungsi hilir. Produk dibuat oleh tim produksi atau riset dan pengembangan, lalu diserahkan kepada tim marketing untuk dipromosikan.

Tugas marketer dianggap selesai ketika kampanye berhasil menarik perhatian dan meningkatkan penjualan. Namun, perubahan perilaku konsumen telah menggugurkan pendekatan lama ini.

Konsumen modern tidak lagi mudah dipengaruhi oleh pesan promosi. Mereka semakin rasional, kritis, dan berbasis pengalaman. Akses informasi yang luas membuat mereka mampu membandingkan produk secara mandiri, membaca ulasan, hingga mengevaluasi nilai suatu merek sebelum mengambil keputusan.

Dalam kondisi ini, promosi yang kuat tidak dapat menyelamatkan produk yang tidak relevan.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak produk gagal bukan karena kurangnya promosi, tetapi karena tidak menjawab kebutuhan pasar.

Konsumen tidak membeli karena iklan yang menarik, melainkan karena produk tersebut mampu memberikan solusi nyata. Dengan kata lain, keberhasilan bisnis kini lebih ditentukan oleh relevansi daripada visibilitas.

Di sinilah peran marketer mengalami transformasi. Mereka tidak lagi cukup menjadi komunikator, tetapi harus menjadi penghubung antara kebutuhan pasar dan desain produk.

Marketer perlu memahami perilaku konsumen, membaca tren, serta mengidentifikasi masalah yang belum terselesaikan. Insight inilah yang kemudian menjadi dasar dalam proses pengembangan produk.

Dengan pendekatan ini, marketer tidak bekerja setelah produk selesai dibuat, melainkan sejak tahap awal perancangan.

Mereka berkontribusi dalam menentukan fitur, pengalaman pengguna, bahkan nilai yang ingin dihadirkan oleh produk.

Marketing tidak lagi menjadi alat untuk “menjual apa yang ada”, tetapi menjadi pemandu dalam menciptakan “apa yang dibutuhkan”.

Perubahan ini juga menggeser posisi pemasaran dalam struktur organisasi. Marketing bukan lagi fungsi pendukung, melainkan bagian strategis dalam pengambilan keputusan bisnis.

Perusahaan yang mampu mengintegrasikan perspektif pasar ke dalam proses inovasi akan lebih adaptif dalam menghadapi dinamika persaingan.

Di era ekonomi berbasis pengalaman, nilai sebuah produk tidak hanya terletak pada fungsi, tetapi juga pada kemudahan, kenyamanan, dan kesesuaian dengan gaya hidup konsumen.

Produk yang dirancang dengan pemahaman pasar yang kuat akan memiliki daya saing yang lebih berkelanjutan dibandingkan produk yang hanya mengandalkan keunggulan teknis.

Ke depan, ukuran keberhasilan marketer tidak lagi ditentukan oleh seberapa viral kampanye yang mereka ciptakan.

Sebaliknya, mereka akan dinilai dari kontribusinya dalam menghadirkan produk yang relevan, bernilai, dan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Dengan demikian, masa depan pemasaran bukan lagi tentang persuasi, tetapi tentang pemahaman.

Marketer bukan sekadar penyampai pesan, melainkan penentu arah. Mereka membantu memastikan bahwa produk yang lahir bukan hanya dapat dijual, tetapi memang layak untuk digunakan.

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, produk terbaik bukan hanya hasil inovasi teknologi, tetapi juga hasil pemahaman pasar. Dan di titik inilah marketer memainkan peran barunya — sebagai arsitek nilai dalam penciptaan produk.(**).

Berita terkait