Menjaga Nafas Batik Rifa’iyah di Gedung Arsip Batang

Menjaga Nafas Batik Rifa’iyah di Gedung Arsip Batang
Belasan motif Batik Rifa'iyah berusia ratusan tahun yang telah terarsipkan oleh Ketua Dekranasda Batang, di Gedung Arsip. (Foto:Sigit)

Spektroom - Di balik dinding tenang Gedung Arsip Kabupaten Batang, selembar demi selembar motif Batik Rifa’iyah disimpan bukan sekadar sebagai arsip, melainkan sebagai jejak peradaban. Batik yang telah berusia ratusan tahun itu kini mendapat ruang aman, dijaga agar tidak lenyap ditelan zaman.

Pada Senin, 2 Januari 2026, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, melangkah menyusuri ruang arsip. Ia melakukan pengecekan berkala terhadap 16 motif Batik Rifa’iyah yang sejak 2025 lalu resmi terdokumentasikan.

Langkah ini menjadi upaya awal dan penting, memastikan warisan budaya tersebut tetap lestari, bahkan ketika kelak para perajinnya telah tiada.

“Kami mengecek apakah belasan motif itu tersimpan dengan baik. Sebagian sudah dipajang dalam pigura, sebagian lain tersimpan rapi dalam pipa dan telah diberi keterangan jenis motifnya,” ujar Faelasufa.

Pengarsipan dilakukan dengan cermat. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Batang, Puji Setyowati, menjelaskan bahwa enam motif dipajang dalam pigura, sementara sepuluh lainnya disimpan dalam pipa khusus karena keterbatasan ruang. Meski tidak semuanya terpajang, seluruh motif dipastikan aman.

“Motif-motif ini dilukis ulang di atas kertas khusus yang memiliki daya tahan hingga ratusan tahun,” tegas Puji.

Kertas tersebut dikenal oleh para penyungging (pembatik), sebagai kertas roti, media yang terbukti mampu bertahan lebih dari satu abad bila disimpan dengan baik.
Di antara rak dan dokumen sejarah lainnya—mulai dari foto pendiri Kadipaten Batang era kolonial hingga arsip perjalanan kabupaten—Batik Rifa’iyah menemukan tempatnya.

Ia berdiri sejajar dengan sejarah Batang yang panjang dan berlapis.
Bagi Miftakhutin, pegiat Batik Rifa’iyah, pendokumentasian ini adalah bentuk perlindungan masa depan.

“Nanti kalau para pembatiknya sudah tidak ada, motif aslinya masih bisa dilihat dan dipelajari di Gedung Arsip ini,” katanya penuh harap.

Namun, pekerjaan belum usai. Arsip bukan tujuan akhir. Miftakhutin bersama para pemerhati Batik Rifa’iyah terus bergerak, menularkan pengetahuan kepada generasi muda melalui pelatihan, baik di lembaga pendidikan maupun di rumahnya sendiri.

Ia ingin motif-motif itu tetap hidup, tidak berhenti sebagai gambar di balik kaca.
Enam belas motif yang diarsipkan —Pelo Ati, Kotak Gambir, Banji, Kupat Lepet, Tambal, Kawung Jenggot, Dapel, Romo Gendong, Jeruk No’i, Kotak Kitir, Gemblong Sairis, Kawung Ndog, Ila Ili, dan Nyah Pratin—kini bukan hanya milik masa lalu.

Dengan upaya bersama, Batik Rifa’iyah terus bernafas, menjembatani sejarah dan masa depan Batang. (Sigit/Biantoro).

Berita terkait