Nabi Muhammad SAW, Sepanjang Hayatnya, Berpuasa 9 Kali Ramadhan & Hanya Sekali Yang 30 Hari
Bandarlampung - Spektroom : Perkumpulan Lansia Aktif Peduli (LANTIP) Indonesia Kepengurusan Daerah Lampung (KD-LI Lampung) adalah organisasi independen yang resmi dikukuhkan untuk masa bhakti 2025-2030.
Wadah ini bertujuan memberdayakan lansia agar tetap aktif, sehat, dan peduli, sejalan dengan kepengurusan pusat.
KD-LI Lampung yang diketuai DR. Hendrawan dan Sekretaris M. Fatoni berkomitmen untuk tetap aktif dan peduli

Pada kesempatan tersebut juga diisi dengan tauziah Ramadhan oleh ustadz H. Supyan Hasan Alit yang menguraikan tentang puasa dibulan Ramadhan.
Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam, merayakannya dengan penuh keceriaan dan berlomba-lomba memperbanyak pahala lewat amalan-amalan sholeh.
Di siang hari, ada kewajiban puasa. Di malam hari, ada banyak amalan sunah dengan pahala berlipat ganda seperti sholat Tarawih, membaca Alquran, memberi santunan, dan lain sebagainya.
Hal itu disampaikan ustadz H. Supyan Hasan Alit dalam tauziyahnya pada acara buka bersama, Lantip KD-LI Lampung, di Bandarlampung, Jum'at (13/3/2026).

Puasa Ramadhan, lanjutnya adalah ibadah yang disyariatkan pada tahun kedua, dan ini fase Madinah. Dan puasa Ramadhan termasuk salah rukun islam, dan sepakat ulama hukum puasa dibulan Ramadhan adalah wajib.
"Tentu, Ketika suatu ibadah yang disyaritakan dalam islam tidak boleh asal dalam menjalankannya kecuali ada tuntunan dan dalil dalam ibadah tersebut" pesan ustadz Hasan Alit.
Ustadz Hasan Alit mengisahkan, Nabi Muhammad berpuasa sembilan kali Ramadhan sepanjang hayatnya, namun dari 9 kali Ramadhan, delapan kali berpuasa selama 29 hari dan sekali berpuasa selama 30 hari.
Dalam sistem kalender Hijriyah –yang dipakai umat Islam- setiap bulannya itu 29 hari dan terkadang 30 hari, tidak sampai 31 hari sebagaimana sistem kalender Masehi.
Dari kisah Nabi Muhammad SAW tersebut dapat kita simpulkan bahwa puasa 29 atau 30 hari tidak perlu diperdebatkan, karena penetapan hilal.
"Jadi, puasa Ramadhan dilaksanakan selama 29 atau 30 hari, sesuai dengan hasil penetapan hilal. Keduanya sama-sama benar dan sah menurut syariat Islam. Yang terpenting adalah bagaimana Ramadhan dijalani dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan semangat memperbaiki diri." tandas dia.
Jika beliau (Nabi Muhammad SAW) sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya’bân menjadi tiga puluh.
Dalam menerima berita terbitnya hilal ini dari siapa saja sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya.
"Namun dimasa kini orang yang dimaksud Nabi Muhammad SAW adalah Pemerintah melaui Kementrian Agama yang menentukan kapan awal puasa dan kapan tanggal 1 Syawal" tandas dia lagi
Lebih dari itu, Ramadhan bukan sekadar soal jumlah hari, tetapi tentang perjalanan hati menuju ketaqwaan.(@Ng).