Natal 2025, Menag Dorong ASN Kemenag Sulut Jadi Pelopor Ekoteologi
Spektroom - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama di Sulawesi Utara untuk menjadi pelopor penerapan ekoteologi dalam kehidupan beragama.
Ajakan tersebut disampaikan Menag dalam rangka perayaan Natal 2025 yang dirangkaikan dengan dialog lintas agama, sebagai upaya memperkuat iman, kerukunan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Menag menegaskan bahwa perayaan keagamaan, termasuk Natal, tidak boleh berhenti pada aspek seremonial, tetapi harus melahirkan tanggung jawab moral yang nyata dalam merawat kehidupan dan alam. Menurutnya, nilai-nilai keimanan seluruh agama sejatinya sejalan dalam menjaga ciptaan Tuhan.
“Perayaan Natal dan dialog lintas agama ini mengingatkan kita bahwa iman tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual. Semua agama mengajarkan tanggung jawab moral yang sama, yaitu merawat kehidupan dan menjaga alam sebagai anugerah Tuhan. Inilah yang kita sebut sebagai ekoteologi,” ujar Menag, Kamis (25/12/2025).
Ia menambahkan, krisis lingkungan merupakan persoalan bersama yang tidak mengenal batas agama, suku, maupun golongan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas iman untuk menghadirkan solusi yang berangkat dari nilai-nilai keagamaan.
“Kerusakan alam tidak mengenal batas agama, suku, maupun golongan. Karena itu, solusi yang kita bangun juga harus bersifat kolektif, berbasis nilai keagamaan yang menumbuhkan kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, Menag menaruh harapan besar kepada ASN Kementerian Agama sebagai teladan di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa ASN Kemenag harus berada di garda terdepan dalam mengintegrasikan keimanan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“ASN Kemenag harus menjadi pelopor ekoteologi, tidak hanya melalui kebijakan dan program, tetapi juga lewat perilaku sehari-hari yang mencerminkan iman yang ramah terhadap sesama dan lingkungan,” katanya.
Menag berharap momentum Natal 2025 dan dialog lintas agama ini tidak berhenti sebagai ruang diskusi semata, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan. Menurutnya, ketika umat beragama bersatu menjaga bumi, maka kerukunan akan terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika umat beragama bersatu menjaga bumi, maka kerukunan tidak hanya hadir di ruang ibadah, tetapi juga di ruang hidup kita bersama,” pungkas Menag. (Pol*-*Indah)