Nopia dan Mino, Kue Legendaris Banyumas yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman

Nopia dan Mino, Kue Legendaris Banyumas yang Tetap Bertahan di Tengah Zaman
Proses pemanggangan kuwe legendaris nopia/Mino didalam gentong panas (Foto : Biantoro).

Spektroom – Banyumas Raya, wilayah di ujung barat daya Provinsi Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, bukan hanya dikenal lewat logat “ngapak”-nya yang khas.

Daerah ini juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang hingga kini masih lestari dan dicintai lintas generasi. Mulai dari tempe mendoan yang tipis dan gurih, getuk goreng Sokaraja yang legit, bunthil, soto khas Sokaraja, hingga aneka jajanan kering yang selalu diburu sebagai oleh-oleh.

Di antara deretan kuliner tersebut, Nopia dan Mino menempati posisi istimewa sebagai kue tradisional legendaris yang telah bertahan sejak puluhan tahun silam.
Nopia dan Mino pada dasarnya adalah kue yang sama,

Perbedaannya hanya terletak pada ukuran. Nopia berukuran besar, sementara Mino merupakan versi kecilnya yang kerap disebut Mini Nopia. Kue kering ini memiliki ciri khas rongga di bagian dalam, dengan tekstur kulit luar yang renyah dan isi yang legit serta manis.

Bahan utama Nopia dan Mino terbilang sederhana, yakni tepung terigu dan gula jawa. Namun, dari kesederhanaan itulah lahir cita rasa yang khas. Seiring perkembangan zaman, isian Nopia dan Mino pun semakin beragam. Tak hanya gula jawa, kini tersedia varian rasa durian, cokelat, nanas, hingga pandan, yang menyesuaikan selera konsumen masa kini.

Proses pembentukan kuwe legendaris Nopia/Mino. (Foto : Biantoro).

Secara bentuk, Nopia memiliki ukuran hampir sebesar telur bebek. Karena itu, masyarakat Banyumas kerap menyebutnya dengan berbagai nama unik seperti endhog bulus (telur kura-kura), kuwe telor gajah, atau ndok bledeg. Sementara Mino, meski lebih kecil, tetap menghadirkan rasa dan tekstur yang sama.

Di Desa Wlahar Wetan, Banyumas, Rini Purwati, seorang pengusaha muda sekaligus pembuat Nopia dan Mino, masih setia mempertahankan cara pembuatan tradisional. Menurut Rini, proses pembuatan dimulai dari meracik adonan kulit luar yang terbuat dari tepung terigu, susu, gula pasir, mentega, dan vanili. Sementara isiannya dibuat dari campuran tepung, gula merah, mentega, dan vanili.

“Setelah adonan siap, proses pembuatannya hampir sama seperti membuat kue nastar,” ujar Rini kepada Spektroom.co.id.

Rini Purwati pelaku UMKM desa Wlahar Wetan Banyumas, setiap hari rata-rata produksi 1 kwintal Nopia/Mino (Foto : Biantoro).

Adonan yang telah dibentuk bulat kemudian dipanggang dengan cara unik, yakni ditempelkan pada dinding gentong tanah liat yang di dalamnya berisi bara arang kayu. Proses pemanggangan ini memerlukan ketelatenan dan suhu yang tepat agar Nopia dan Mino matang sempurna.

Setelah matang, kue-kue tersebut dilepas dari dinding gentong menggunakan alat khusus, lalu disortir sebelum akhirnya dikemas dan siap dipasarkan. Dalam sehari, Rini mengaku mampu memproduksi hingga satu kwintal Mino untuk memenuhi pesanan pedagang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bali, Semarang, Yogyakarta, dan kota-kota lain di Pulau Jawa.

Tak hanya memproduksi sendiri, Rini juga menggandeng pelaku UMKM lain untuk saling bertukar produk demi mengisi etalase tokonya.

“Kami saling mendukung agar produk UMKM Banyumas bisa dikenal lebih luas,” katanya.

Sementara itu, Purwadi, perajin Nopia dan Mino didesa yang sama, mengaku telah menekuni usaha ini sejak 1989, sempat terhenti ditahun 2003. Keahliannya diwariskan keluarganya secara turun-temurun.

Purwadi melakukan penyortiran produk yang dibuat sebelum dikemas dan dijual kepasaran. (Foto : Biantoro).

Menurut cerita dari sang kakek, Nopia telah ada sejak tahun 1950-an dan terus bertahan hingga sekarang.

“Nopia ini makanan zaman dulu, tapi sampai sekarang tetap dicari,” ujar Purwadi.

Keberadaan Nopia dan Mino bukan sekadar camilan, melainkan bagian dari identitas kuliner Banyumas. Di tengah gempuran makanan modern, kue tradisional ini tetap setia menemani para wisatawan sebagai oleh-oleh wajib, berdampingan dengan mendoan, getuk goreng, dan keripik khas Banyumas lainnya.

Nopia dan Mino bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, tradisi, dan ketekunan para perajinnya dalam menjaga warisan kuliner daerah agar tetap hidup dari generasi ke generasi.

Berita terkait

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif  di Aceh

Sekolah Rakyat Permanen Tahap II, Terus Dilakukan Secara Masif di Aceh

Spektroom – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan permanen Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh sebagai bagian dari pemulihan pasca bencana banjir bandang sekaligus upaya memutus mata rantai kemiskinan melalui peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh diharapkan menjadi simpul pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak

Nurana Diah Dhayanti