Optimalkan 158 Aset, PELNI Dorong Pendapatan di Luar Tiket
Semarang-Spektroom : PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) memperkuat strategi bisnis dengan mengoptimalkan ratusan aset yang dimiliki. Upaya ini diarahkan untuk mendongkrak pendapatan di luar sektor angkutan penumpang.
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT PELNI, Nuraini Dessy W menyebut, sebanyak 158 aset telah dipetakan sejak 2024. Aset tersebut tersebar di berbagai wilayah dengan potensi operasional maupun komersial.
Ia mengungkapkan, sekitar 14 persen aset masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk mendorong kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kami membuka peluang kerja sama seluas-luasnya agar aset yang masih idle bisa produktif,” ujarnya, di Semarang, Jumat (3/4/2026)
Desy menjelaskan, ada lima wilayah yang menjadi fokus pengembangan tahun ini, yakni Belawan, Padang, Semarang, Balikpapan, dan Ternate. Di Semarang, salah satu aset tengah disiapkan menjadi ruang usaha baru.
"Untuk di Semarang saat ini sudah berjalan pemanfaatan F&B, dan akan menyusul coffee shop di kawasan Kota Lama," imbuhnya.
Menurutnya, skema kerja sama mencakup sektor minimarket, kuliner, hingga penyewaan ruang kantor. Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan utilisasi aset yang sebelumnya tidak produktif.
“Meski kontribusinya belum besar, setidaknya aset yang sebelumnya tidak menghasilkan kini sudah mulai memberikan pemasukan,” katanya.
Vice President Usaha Komersial PT PELNI, Berryl A. Insanul Firdaus menambahkan, pengembangan juga menyasar aset kapal. Badan kapal mulai dimanfaatkan sebagai media promosi dan branding.
Ia menilai, langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan. Namun saat ini, kontribusi pendapatan komersial masih di bawah 10 persen dibandingkan bisnis utama.
“Pendapatan komersial dari aset masih kecil porsinya dibandingkan perkapalan,” jelasnya.
Berryl menuturkan, PELNI turut melibatkan pelaku UMKM untuk mengisi ruang usaha. Strategi ini diharapkan mampu mendorong ekonomi lokal sekaligus meningkatkan nilai guna aset.
Ia menegaskan, peluang kerja sama juga terbuka bagi brand besar dengan seleksi ketat. Kesesuaian antara mitra dan karakter lokasi menjadi pertimbangan utama.
“Kerja sama ini seperti mencari kecocokan, harus pas antara mitra dan asetnya,” tandasnya. (kar)