Pada Pangantin Bausung, Upaya Mengangkat Batang Tarandam
Banjarmasin-Spektroom : Rumah Alam Sungai Andai, Rabu (22/4/2026) dipenuhi Para Pegiat Pengantin Banjar.
Sebuah diskusi kebudayaan digelar, temanya pelestarian Pengantin Banjar Bausung. Diselenggarakan atas dukungan Dana Abadi Kebudayaan.
Hadir sebagai narasumber, Noorhalis Majid, Pemerhati Budaya Banjar, dan Dra Hj Siti Saniah, M.Pd, Pegiat Kebudayaan Pengantin Banjar.
Diskusi berlangsung begitu hangat, karena puluhan Peserta merupakan Pelaku dan Pelestarian tradisi budaya Perkawinan adat Banjar.
Noorhalis Majid menyampaikan, dalam kebudayaan, tidak ada ruang kosong.
"Kalau suatu Komunitas menolak satu kebudayaan, maka kebudayaan lain akan mengisinya. Bila satu tradisi dilupakan, tidak dipraktikkan lagi, maka tradisi lain akan menggantikannya" ujar Nurcholis Madjid.
Budaya atau kebudayaan, menurutnya, adalah cara hidup yang dikembangkan dan dimiliki bersama oleh kelompok Masyarakat, mencakup sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya (adat istiadat, bahasa, seni), yang diwariskan secara turun-temurun.
Berasal dari bahasa Sanskerta, buddhayah (budi/akal), budaya mencerminkan cipta, rasa, dan karsa manusia.
Dalam pengertian lain, budaya sering dikaitkan dengan hasil dari budi dan daya (ikhtiar), nilai dan kebiasaan baik yang dikembangkan, sebagai panduan dan pedoman hidup bersama.
"Secara ringkas, budaya adalah perangkat lunak yang memandu persepsi dan perilaku manusia dalam komunitasnya, menjadikannya identitas yang membedakan satu komunitas dengan komunitas lain" katanya lagi.
Karena budaya menjadi suatu identitas Komunitas, apabila budayanya hilang, maka hilang pula identitas tersebut. Tidak jarang suatu Komunitas sulit diidentifikasi, disebabkan hilangnya unsur-unsur budaya yang menjadi identitas dari Komunitas tersebut.
Satu kebudayaan Banjar yang mulai hilang tergerus zaman, adalah pangantin bausung. Suatu tradisi mengarak pengantin dalam upacara perkawinan adat Banjar, Kalimantan Selatan. "Bausung" artinya diusung/dipikul/diangkat.
Salah satu tradisi kuno yang sudah ada sejak era Kesultanan Banjar, sekitar abad ke-16. Bahkan diduga lebih lama dari itu, sejak era kerajaan Daha dan Kerajaan Dipa. Konon, awalnya karena ada Anak Raja yang kawin dengan sepupunya.
Walau disetujui oleh Raja, ada perasaan khawatir kalau semesta tidak berkenan. Agar terhindar dari berbagai gangguan roh jahat, maka Sang Pengantin diusung menuju pelaminannya.
"Setelah peristiwa tersebut, bausung menjadi tradisi dari Keluarga Raja-raja secara turun temurun. Tujuannya agar saat perayaan hari kebahagiaan, tidak mendapat gangguan dari apapun, terutama roh-roh jahat yang tidak berkenan melihat kebahagiaan Raja sehari" ujarnya berkisah.
Sebab itu dahulu anak keturunan yang masih terhubung dengan “tutus”, tidak berani melanggar tradisi bausung dalam perkawinan. Selalu saja bausung menjadi salah satu prosesi yang ditunggu, sebagai satu kesakralan proses perkawinan.
Walau awalnya hanya dilakukan untuk Anak-anak Raja dan Keluarga Bangsawan. Kemudian setelahnya, menjadi budaya, menjadi tradisi dan identitas Banjar, sehingga diselenggarakan pula oleh Warga biasa, untuk menggambarkan “status sosial”, kemampuan dan kedudukan dari Keluarga yang sedang menyelenggarakan perkawinan. Ketika Warga biasa mampu menyelenggarakan bausung, tergambar tingginya status sosial dari Keluarga kedua mempelai.
Dalam sejumlah penelitian dan jurnal yang mengkaji dan menulis tentang bausung, menyebutkan bahwa tradisi ini hidup dan berkembang pada Komunitas Banjar Kandangan, namun sejumlah tulisan juga mengatakan, Warga Banjar yang migrasi ke Riau, Jambi dan Tambilahan, masih memelihara tradisi bausung, karena dianggap sebagai identitas Warga Banjar.
Noorhalis Majid menjelaskan, filosofi "Bausung", dimaksudkan untuk memuliakan Pengantin. Pasangan mempelai dianggap "Raja dan Ratu sehari".
Karena itu Mereka tidak boleh menginjak tanah, sebelum duduk di pelaminan.
"Diusung, atau diangkat derajatnya lebih mulia dari yang lain. Diharapkan, kelak ketika menghadapi kehidupan yang baru, mendapat tempat mulia di tengah Masyarakat." pungkasnya.