Pemerintah Hadirkan Fasilitas Pendidikan Representatif bagi WNI di Arab Saudi
Jakarta - Spektroom : Dalam upaya mengatasi keterbatasan sarana pendidikan bagi putra putri Indonesia di Arab Saudi, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah menandatangani kontrak sewa lahan seluas 3.484 meter persegi di kawasan Al Andalus, dengan Tatwir Building Company untuk pembangunan Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ).
KJRI Jeddah menyatakan penandatanganan sewa untuk jangka waktu 50 tahun senilai SAR 1,3 juta atau setara Rp5,3 miliar per tahun dengan masa tenggang pembangunan selama dua tahun
“Penyediaan lahan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Arab Saudi. Pemerintah terus berupaya menghadirkan fasilitas pendidikan yang memadai dan representatif,” ujar Konsul Jenderal RI Jeddah,Yusron Bahauddin Ambary, Kamis (2/4/2026) dikutip Jumat (3/4/2026)
Capaian ini merupakan hasil negosiasi intensif sejak Juli 2025 yang mencakup aspek teknis, legal, dan finansial. Keberhasilan tersebut terwujud melalui koordinasi antara Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sinergi lintas instansi ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas sarana belajar bagi generasi penerus bangsa Indonesia di Arab Saudi. Pembangunan SIJ di lokasi baru diharapkan mampu mengoptimalkan potensi akademik sekaligus menjawab kebutuhan komunitas WNI di Jeddah dan sekitarnya.
Selama ini SIJ beroperasi di lokasi lama seluas 1.200 di Al Rehab, menampung 1.400 siswa tingkat dasar dan menengah dengan kurikulum pendidikan nasional dibawah pengelolaan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh.
Sekolah Indonesia Jeddah beridiri sejak tanggal 1 Januari tahun 1964. Semula hanyalah Taman Kanak-kanak yang dikelola Ibu-ibu Dharma Wanita unit KBRI (sebelum menjadi KJRI) Jeddah dengan nama Taman Kanak-kanak “Trikora”.
Nama Trikora diambil karena saat rapat pertama pendirian sekolah bersamaan dengan tanggal 19 Desember 1963 saat pernyataan Tri Komando Rakyat untuk merebut kembali Irian Barat yang masih dalam cengkeraman penjajah.
Pendirian sekolah tersebut disetujui oleh Dubes K.H. Mohammad Ilyas.