Pemko Sawahlunto Tetapkan Pasar Sapan Hari Senin dan Kamis
Sawahlunto-Spektroom : Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan langkah strategis dalam menata ulang ekosistem perdagangan tradisional dengan mengubah jadwal operasional Pasar Sapan menjadi hari Senin dan Kamis. Kebijakan ini tidak sekadar penyesuaian teknis, tetapi menjadi bagian dari desain besar pemerataan aktivitas ekonomi berbasis wilayah.
Dengan perubahan, pola hari pasar di Sawahlunto kini membentuk siklus ekonomi harian yang berkesinambungan. Aktivitas pasar tersebar sepanjang minggu, dimulai dari Pasar Sapan (Senin), Talawi (Selasa), Sawahlunto (Rabu), kembali ke Sapan (Kamis), Talawi (Jumat), Sawahlunto (Sabtu), hingga Silungkang (Minggu).
Model ini dinilai mampu memutus pola penumpukan aktivitas ekonomi pada titik tertentu sekaligus menciptakan distribusi pengunjung yang lebih proporsional antar pasar.
Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra menegaskan kebijakan ini bertujuan memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui peningkatan frekuensi transaksi dan pemerataan arus pengunjung.
“Tujuan utamanya adalah penguatan ekonomi masyarakat dan pemerataan jumlah pengunjung ke seluruh pasar di Kota Sawahlunto,” ungkapnya, Kamis (16/04/2026).
Dari perspektif ekonomi lokal, keberadaan pasar yang aktif setiap hari di lokasi berbeda berpotensi meningkatkan likuiditas transaksi masyarakat. Perputaran uang dan barang menjadi lebih stabil, tidak lagi bergantung pada hari-hari tertentu.
Di sisi lain, kebijakan ini juga diiringi dengan intervensi pada aspek infrastruktur. Sebelum perubahan jadwal diterapkan, pemerintah daerah bersama Wakil Wali Kota dan perangkat terkait telah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah titik pasar, termasuk Pasar Sapan.
Hasil pemantauan menjadi dasar penetapan program perbaikan fasilitas, baik dalam kategori perbaikan sedang maupun berat. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan kesiapan pasar dalam menampung peningkatan aktivitas pasca perubahan jadwal.
Pendekatan simultan antara pengaturan jadwal dan pembenahan fisik pasar menunjukkan adanya upaya integratif dalam pengelolaan pasar tradisional. Tidak hanya mengatur ritme perdagangan, pemerintah juga memperkuat kualitas ruang transaksi.
Jika implementasi berjalan konsisten, kebijakan ini berpotensi menjadikan pasar tradisional Sawahlunto lebih kompetitif di tengah tekanan modernisasi sektor ritel.
Ke depan, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh konsistensi pengawasan, peningkatan fasilitas, serta adaptasi pedagang dan masyarakat terhadap pola baru aktivitas pasar. (Ris1)