Pemprov Kepri Perkuat Investasi dan Kemitraan Ekonomi di Batam
Kepri–Spektroom : Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nyanyang Haris Pratamura memimpin pertemuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri dengan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri di Kediaman Dinas Duta Besar UEA Jakarta Selatan.
Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi dan membuka peluang investasi yang lebih luas di Kepulau Riau, khususnya Batam. Pertemuan tersebut membahas hubungan bilateral Indonesia–UEA serta perkembangan kegiatan usaha IFFCO Group, perusahaan pangan asal UEA yang telah beroperasi di Batam. Selain memperkuat kemitraan yang telah terjalin, komunikasi ini diharapkan dapat mendorong perluasan investasi UEA di berbagai sektor potensial di Kepri.
Nyanyang menegaskan, Pemprov Kepri berkomitmen menjaga iklim investasi yang kondusif sekaligus memperkuat hubungan dengan mitra internasional guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kepri memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang investasi dan perdagangan internasional. Kami terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberikan kemudahan pelayanan kepada investor, termasuk dari Uni Emirat Arab, agar investasi yang masuk dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan masyarakat Kepri,” ujar Nyanyang Jum’at((/10/2026).
Dalam pertemuan tersebut, pihak UEA diwakili Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri dan Duta Besar UEA untuk ASEAN Mohammed Ahmed Mohamed Bandouq AlQamzi. Hadir pula Direktur Grup Global sekaligus Direktur Urusan Korporasi dan Pengembangan Bisnis IFFCO, Abdelghani Abdullah, serta Kepala Urusan Ekonomi Kedutaan Besar UEA di Jakarta, Meera AlAzeezi. Nyanyang didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Kepri Hasfarizal Handra dan Kepala Bagian Administrasi Keuangan dan Aset Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Kepri Suharyanto.
IFFCO Group telah menjalankan kegiatan usaha di Batam melalui PT Synergy Oil Nusantara, yang mengoperasikan fasilitas pemurnian minyak makan di kawasan Kabil, Nongsa. Keberadaan perusahaan tersebut menjadi salah satu bukti kontribusi investasi UEA dalam mendukung aktivitas industri dan perekonomian Batam.
Dalam kunjungannya ke Batam pada 2 Juli 2025, Dubes Abdulla Salem AlDhaheri meninjau langsung fasilitas pengolahan tersebut. Saat itu, IFFCO disebut sebagai salah satu investor sekaligus pembayar pajak terbesar di Batam. Pihak UEA juga menyampaikan ketertarikan untuk menjajaki investasi di sektor infrastruktur, energi, teknologi, dan pariwisata.
Pertemuan ini berlangsung di tengah momentum 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan UEA. Komitmen memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara juga tercermin dalam pertemuan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dengan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026, yang membahas peningkatan investasi UEA di Indonesia.

Kerja sama tersebut turut didukung Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–UEA (I-UAE CEPA) yang berlaku sejak 1 September 2023. Perjanjian ini memberikan kerangka untuk memperluas perdagangan dan investasi kedua negara. Pada Januari–Juni 2026, total perdagangan Indonesia dan UEA tercatat mencapai USD 3,14 miliar, dengan ekspor Indonesia sebesar USD 1,76 miliar dan impor USD 1,38 miliar.
Kepri menjadi salah satu wilayah yang memiliki daya tarik kuat bagi investor asing. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut Kepri termasuk tiga wilayah di luar Jawa yang paling diminati investor asing pada semester I 2026. Pada periode yang sama, realisasi investasi di Batam mencapai Rp40 triliun, seiring pertumbuhan ekonomi sebesar 7,28 persen.
Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Batam memiliki keunggulan berupa fasilitas kepabeanan dan perpajakan khusus yang mendukung aktivitas perdagangan dan investasi. Keunggulan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi Batam sebagai tujuan investasi internasional.
Pemprov Kepri berharap penguatan komunikasi dan kemitraan dengan UEA dapat membuka peluang investasi baru, memperluas kerja sama ekonomi, serta memberikan dampak berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Riau.