Perayaan Ekaristi Kamis Putih di Gereja Kristus Raja Katedral Tanjungkarang
Bandarlampung - Spektroom: Kamis Putih merupakan rangkaian dari Trihari Suci atau makna masa prapaskah yang juga terdiri dari Jumat Agung dan Sabtu Suci.
Dari peristiwa Kamis Putih, ada banyak makna dan nilai yang bisa dipetik. Terkait perayaan Kamis Putih, ini merupakan sebuah momen untuk mengenang peristiwa-peristiwa di mana Yesus mendekati masa kematian-Nya.
Demikian pula halnya Perayaan Ekaristi Kamis Putih di Gereja Kristus Raja Katedral Tanjung Karang Bandarlampung, Kamis (2/4/2026) petang, setelah pembacaan Injil, selanjutnya di sampaikan Homili atau khotbah, oleh Pastor Kepala Paroki Kristus Raja, Katedral, Tanjungkarang, RD JB. Sujanto.
Dalam khotbahnya Romo Sujanto menyampaikan, Kamis putih untuk merayakan peristiwa yang sungguh luar biasa, sebagai ungkapan cinta dan kasih Allah kepada manusia.
Cinta dan kasih Allah yang terputus karena dosa dan salah manusia, Allah mengutus manusia memberikan kesempatan kepada semua orang yang terputus relasinya dengan Allah, kembali dalam kesatuan dengan Allah sendiri dalam karya keselamatan.
"Peristiwa malam perjamuan terakhir Yesus menjadi ungkapan nyata tindakan nyata dari Yesus bukan sekedar kata tetapi tindakan pemberian dirinya secara paripurna untuk keselamatan umat manusia" ucap Romo Sujanto.
Yesus memberikan dirinya tubuh dan darahnya bagi setiap manusia, supaya setiap orang yang menyambut yang menerima tubuh dan darahnya memiliki darah dan hidup Yesus sendiri.
Ini berarti bahwa setiap orang yang telah dsatukan dengan Yesus mengemban tugas perutusan yang sama, mengemban tugas perutusan untuk menjadi pewarta pewarta Iman melalui sikap, kata, tindakan dan perbuatan kita yang membawa keselamatan dan sukacita bagi banyak orang.
"Inilah tugas perutusan yang hendak dinyatakan, diwujud nyatakan dalam kepercayaan Yesus kepada kita manusia yang mengimaninya. Kehadiran Yesus ke dalam dunia pada dewasa ini, dipercayakan kepada saudara-saudari sekalian yang beriman kepadanya, untuk mewujudkannya dalam sikap tindakan dan perbuatannya, sehingga dengan terang, sabda dan kehendak Allah melalui perbuatan dan tindakan saudara sekalian mengundang banyak orang untuk masuk dalam perang Kristus sendiri."
Bahkan, Yesus bukan hanya melakukan pewartaan dengan kata, tapi ia mewujudkan perbuatannya cintanya yang nyata bahkan rela membasuh kaki para rasul dalam tugas penggembalaan umat Allah melayani seorang terhadap yang lain, jika aku Tuhan dan gurumu melakukan ini hendaklah kalian juga saling membasuh kaki.
Artinya, saling melayani satu sama lain tidak menuntut diri untuk dilayani karena sebagaimana Yesus yang adalah Tuhan yang seharusnya memiliki hak untuk dilayani memiliki hak untuk dimuliakan tetapi ia rela merendahkan dirinya melayani para murid membasuh kaki para murid untuk mengangkat derajat dan martabat manusiawi ke martabat ilahi ikut ambil bagian dalam pelayanan Kristus.
Kala itu, Yesus menggelar penjamuan malam untuk terakhir kalinya, di mana ia berbagi roti Paskah dengan para muridnya sebelum penyaliban.
Selain itu Kamis Putih juga untuk meneladani Yesus yang membasuh kaki para muridnya, mengingat kegiatan tersebut dinilai sebagai hal yang hina dan biasa dilakukan oleh budak, namun Yesus yang adalah seorang Guru mau melakukan itu kepada murid-muridnya.(@Ng).