Persebaya Gilas PSIM dengan Skor Telak 3-0
Spektroom - Stadion Sultan Agung tak lagi bergemuruh. Harapan yang sempat menyala di dada pendukung PSIM Yogyakarta dipadamkan satu per satu oleh kebuasan Persebaya Surabaya. Datang sebagai tamu, Bajul Ijo tak sekadar menang, mereka menghancurkan. Skor telak 3-0 menjadi luka yang sulit dilupakan bagi Laskar Mataram, Minggu (25/1/2026).
PSIM sebenarnya berjuang dengan segala keterbatasan. Tanpa sejumlah pilar utama akibat cedera dan akumulasi kartu, mereka tetap berani menatap Persebaya di mata pendukungnya. Ze Valente mencoba menyalakan asa di menit ke-8, lalu Nermin Haljeta nyaris membuat stadion meledak. Tapi di hadapan Ernando Ari, semua harapan itu patah sebelum tumbuh. Kiper Persebaya berdiri seperti tembok dingin, menertawakan setiap peluang tuan rumah.
Dan seperti kutukan klasik sepak bola, saat peluang disia-siakan, hukuman datang. Menit ke-35, Bruno Moreira mengirimkan umpan yang terasa seperti vonis mati. Gali Freitas mengeksekusinya tanpa ragu. Sunyi. Tribun terdiam. PSIM terkapar, Persebaya tersenyum kejam.
Babak kedua berubah menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan. PSIM mencoba bangkit, tapi setiap langkah terasa sia-sia. Malik Risaldi, Bruno Paraiba, dan kawan-kawan terus mengoyak pertahanan yang rapuh. Hingga akhirnya, menit ke-73, Bruno Paraiba menghantam gawang Cahya Supriadi. Skor 2-0, dan mental PSIM runtuh sepenuhnya.
Puncak penderitaan datang hanya 11 menit berselang. Rachmat Irianto berlari dari tengah lapangan seperti kesurupan, melewati pemain belakang PSIM yang tak lagi punya daya. Satu sentuhan, satu tembakan, satu gol. 3-0.
Tamat. Gol itu bukan sekadar angka, tapi simbol dominasi dan kehancuran.
Peluit akhir terdengar seperti lonceng kematian bagi PSIM malam itu. Persebaya pulang dengan tiga poin, naik ke posisi keenam dengan 31 poin.
Sementara PSIM terlempar ke peringkat ketujuh, tertinggal dengan 30 angka dan meninggalkan stadion dengan kepala tertunduk.
Di Bantul, Persebaya bukan hanya menang. Mereka menerkam, melumat, dan meninggalkan luka. Sementara PSIM hanya bisa berdiri di puing-puing harapan yang runtuh. (Gus)