Pesona Lebaran di Telaga Sarangan Saat Alam dan Tradisi Menyatu
Magetan-Spektroom: Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu ketika satu per satu kendaraan mulai memadati kawasan Telaga Sarangan.
Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momen istimewa bagi ribuan orang yang datang, bukan sekadar untuk berlibur, tetapi juga merayakan kebersamaan dalam balutan alam yang sejuk.
Udara dingin menyapa, berkisar antara 15 hingga 20 derajat Celsius. Di permukaan telaga seluas 30 hektare itu, perahu-perahu mulai bergerak perlahan, membelah air yang tenang. Di tepian, suara tawa keluarga bersahutan, berpadu dengan derap langkah kuda yang membawa wisatawan menyusuri jalan setapak.
Bagi banyak orang, Sarangan bukan hanya destinasi wisata, tetapi ruang untuk melepas rindu setelah perjalanan mudik. Seperti yang dirasakan Hartini, wisatawan asal Yogyakarta, yang memilih menghabiskan waktu Lebaran bersama keluarga di tempat ini.
“Suasananya sejuk dan tenang, cocok untuk berkumpul. Anak-anak juga senang,” ujarnya sambil menikmati hangatnya sate kelinci, kuliner khas yang menjadi teman sempurna di udara dingin.
Tak jauh dari telaga, kawasan wisata lain ikut hidup. Mojosemi Forest Park menawarkan pengalaman berbeda dengan replika dinosaurus yang bergerak, memikat perhatian anak-anak.
Sementara di Taman Wisata Genilangit, para pengunjung berburu foto di ketinggian, menikmati lanskap lembah yang terbentang luas seperti lukisan alam.
Lonjakan pengunjung saat Lebaran seolah menjadi bukti bahwa Sarangan tetap memiliki tempat istimewa di hati wisatawan. Di sini, keindahan alam, tradisi, dan kebersamaan menyatu—menciptakan cerita yang selalu ingin diulang, setiap kali hari raya tiba. (Fatmawati).