Pesta Buruh-Hara, Cara Anak Muda Pontianak Rayakan Hari Buruh Internasional
Pontianak - Spektroom : Malam itu, Taman Digulis tidak hanya dipenuhi lalu lalang kendaraan dan kerlip lampu kota. Di salah satu sudut ruang publik yang menjadi denyut anak muda Pontianak, suara tabuh gendang perlahan memecah malam.
Seorang lelaki melantunkan nyanyian lirih, lalu disambut suara-suara lain yang mengiringi irama seperti percakapan panjang tentang harapan dan kelelahan. Di tengah udara malam Pontianak, sekumpulan anak muda berkumpul membentuk lingkaran kecil.
Ada yang duduk di tikar, ada yang berdiri sambil memegang kopi, sebagian lainnya sibuk menyiapkan properti sederhana untuk pertunjukan berikutnya. Mereka tidak sedang menggelar konser besar atau festival komersial. Mereka sedang merayakan Hari Buruh dengan cara yang berbeda. Mereka menyebutnya “Pesta Buruh-Hara”.
Digelar di kawasan Taman Digulis, Sabtu malam (02/05/2026), perayaan itu menghadirkan pembacaan puisi, tarian kontemporer, teatrikal tubuh, hingga nyanyian bersama. Tidak ada pagar pembatas, tidak ada tiket masuk. Siapa saja boleh datang, duduk, mendengar, atau ikut bersuara.
“Dalam rangka memperingati Hari Buruh, diadakanlah acara di ruang publik berupa puisi, tarian kontemporer, teatrikal, dan nyanyian. Siapapun boleh gabung,” kata Ryan, salah satu penggagas kegiatan, di sela acara berlangsung. Malam Minggu yang biasanya dipenuhi hiruk pikuk tongkrongan berubah menjadi ruang ekspresi bersama.
Sesekali suara klakson kendaraan dari jalan raya menyatu dengan bait-bait puisi yang dibacakan bergantian. Di bawah cahaya lampu taman, tubuh-tubuh penampil bergerak mengikuti kata demi kata, seperti sedang menerjemahkan keresahan para pekerja ke dalam gerak dan bunyi.
Bagi sebagian peserta, perayaan ini lahir dari rasa lelah yang lama dipendam. Apsari, salah seorang penyelenggara, mengatakan Hari Buruh tidak selalu harus diperingati lewat demonstrasi di jalan. Ada banyak cara untuk menjaga semangat perjuangan pekerja tanpa kehilangan ruang untuk merayakan hidup.
“Saya juga seorang buruh. Saya lelah dengan demonstrasi, tanpa menyangkal semangat teman-teman yang sedang aksi,” ujarnya. Ia mengaku skeptis terhadap pemerintah dan pemilik modal yang dinilai sering abai terhadap tuntutan pekerja.
Namun dari rasa lelah itu, muncul gagasan untuk menciptakan ruang yang lebih hangat dan manusiawi. “Karena kelelahan dan keraguan itu, setelah berdiskusi dengan teman-teman, munculah ide ini,” lanjutnya.
Menjelang akhir acara, grup musik Orkes Colok Bunyi dari UKM Sarang Semut tampil menutup perayaan. Musik dimainkan sederhana, namun cukup untuk membuat penonton berdiri dan saling menggandeng tangan membentuk lingkaran.
Di tengah kota yang terus bergerak cepat, malam itu para buruh, mahasiswa, seniman, dan warga biasa seolah menemukan satu hal yang sama: keinginan untuk didengar, sekaligus dirayakan sebagai manusia.