Peyek Cetul Gurih Renyah Khas Rawa Jombor Klaten

Peyek Cetul Gurih Renyah Khas Rawa Jombor Klaten
Seorang pekerja sedang membuat Peyek Cetul, camilan khas obyek wisata Rowo Jombor Klaten. (Foto: Ciptati Handayani)

Spektroom – Kuliner di obyek wisata didaerah itu memiliki keragaman dan keunikan tersendiri. Seperti halnya kuliner camilan khas Peyek Cetul (cethol) di obyek wisata Rowo (rawa) Jombor Klaten Jawa Tengah.

Cetul atau ada yang menyebut ikan cere, merupakan ikan air tawar kecil yang hidup liar di perairan air payau/tawar, sungai, parit dan saluran irigasi. Di Rawa Jombor Klaten termasuk di saluran irigasi dari rawa, ikan cetul ini memang cukup berlimpah. Sehingga oleh warga diolah dan dijadikan makanan yang khas, kuliner Peyek Cetul.

“Saya baru pertama ini menjumpai peyek cetul ini ya. Unik dan enak rasanya. Selama ini setahu saya ikan cetul kecil-kecil ada di parit atau sungai, dan biasanya hanya dijadikan mainan anak-anak,” ungkap Lilis, salah seorang pengunjung obyek wisata Rawa Jombor Klaten, yang tertarik membeli oleh-oleh Peyek Cetul.

Wisatawan selain bisa membeli peyek cetul di deretan warung atau rumah di sekitar obyek wisata rawa Jombor, juga bisa melihat langsung proses pembuatannya. Di rumah penduduk setempat, ada yang memproduksi sekaligus menjual langsung kepada wisatawan. Harganya juga sangat terjangkau, sebagai caliman atau lauk sekaligus oleh-oleh yang khas dan enak.

“Enak gurih dan kriuk kriuk renyah penyeknya. Tadi saya juga melihat langsung proses ikan cetul dibuat peyek, digoreng langsung dan saya ikut mencicipi. Untuk harga, menurut saya sih sangat terjangkau ya, Rp 15.000 dapat dua bungkus,” ucap Ningrum, warga Solo yang juga sedang berwisata di Rawa Jombor.

Sejumlah wisatawan membeli peyek cetul itu untuk langsung dimakan, dan sebagian untuk oleh-oleh.

Spektroom juga ikut mampir di rumah dekat rawa Jombor yang memproduksi Peyek Cetul. Bagian depan rumah tersebut memang sengaja dijadikan semacam dapur untuk menggoreng peyek, sekaligus sebagai warung.

Dapur dan cara pengolahannya juga terlihat sederhana, terlihat hanya ada dua ibu-ibu sebagai tenaga kerja. Yang satu membersihkan ikan dan satunya lagi bertugas menggoreng.

“Iya, ini ikan cetul dari rawa Jombor, kita bersihkan dulu kemudian dicampur dengan adonan tepung beras yang dibumbui, terus kita goreng biasa. Silakan lho mencicipi peyeknya… boleh koq,” ujar bu Yati salah seorang tenaga yang menggoreng peyek cetul.

Menurutnya banyak wisatawan yang menyukai camilan tersebut. Selain harganya terjangkau, rasanya juga khas, gurih dan renyah. Dalam memproduksi peyek cetul itu juga tidak menggunakan bahan pengawet dan cara menggoreng maupun resepnya cukup sederhana.

“Ikannya segar langsung kita buat peyek tanpa bahan pengawet. Ini juga tidak pernah nyetok banyak, karena langsung habis dibeli para pengunjung rawa Jombor,” ucapnya. (Ciptati Handayani)  

Berita terkait

Polisi Gagalkan Rencana Tawuran “Perang Sarung” di Tayu, 7 Remaja Diamankan

Polisi Gagalkan Rencana Tawuran “Perang Sarung” di Tayu, 7 Remaja Diamankan

Semarang-Spektroom: Rencana aksi tawuran atau perang sarung antar kelompok remaja di wilayah Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, berhasil digagalkan jajaran Polsek Tayu. Dalam patroli dini hari, polisi mengamankan tujuh remaja beserta delapan sepeda motor yang diduga akan digunakan menuju lokasi tawuran. Kapolresta Pati melalui Kapolsek Tayu AKP Aris Pristianto mengatakan, penggagalan

Sigit Budi Riyanto, Bian Pamungkas