Trending

Prakiraan Hujan diJawa Tengah Diprediksi Datang Lebih Lambat

Prakiraan Hujan diJawa Tengah Diprediksi Datang Lebih Lambat
Kepala Stasiun Klimatologi Goeroeh Tjiptanto di kantornya, Kamis (1/10/2026)(Foto:Humas/Sigit)

Semarang-Spektroom : Awal musim hujan di Jawa Tengah diprediksi datang lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan diperkirakan mundur hingga tiga dasarian, atau sekitar satu bulan di sejumlah wilayah.

Kepala Stasiun Klimatologi Goeroeh Tjiptanto mengatakan, Jawa Tengah hingga saat ini masih berada dalam periode musim kemarau yang dipengaruhi fenomena iklim global, salah satunya El Niño.

“Karena kemarau tahun 2026 ini ada fenomena global yang mempengaruhi, salah satunya adalah El Nino,” kata Goeroeh, Kamis (1/10/2026).

Akibat kondisi tersebut, awal musim hujan di Jawa Tengah diperkirakan tidak datang secara serentak.

Wilayah tertentu diprediksi mulai memasuki musim hujan pada awal November, sementara daerah lainnya baru mengalaminya pada akhir November, awal Desember, bahkan pertengahan Desember.

Goeroeh melanjutkan, wilayah Banjarnegara dan Wonosobo termasuk daerah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan, yakni sekitar awal November.

Sebaliknya, sejumlah wilayah seperti Rembang, Pati bagian utara dan Jepara diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat.

Sementara Wonogiri bagian selatan diperkirakan baru memasuki musim hujan sekitar pertengahan Desember.

“Jadi meskipun Jawa Tengah itu satu wilayah, ada variasi datangnya awal musim hujan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Perbedaan waktu tersebut juga membuat masyarakat tidak bisa menjadikan satu kali hujan sebagai penanda jika musim hujan telah benar-benar tiba.

Pada masa peralihan, hujan masih dapat turun secara sporadis, sebelum pola hujan memasuki musim yang lebih konsisten.

Kondisi itu menjadi perhatian khusus bagi petani, terutama mereka yang mengandalkan sawah tadah hujan.

Goeroeh mengingatkan petani agar tidak terburu-buru melakukan penanaman, hanya karena hujan turun setelah kemarau panjang.

“Di dalam bahasa publik itu ada hujan tipuan, atau dalam bahasa Jawa hujan salah mangsa,” ungkapnya.

Menurut dia, petani tadah hujan perlu lebih berhati-hati karena sumber air untuk tanaman sepenuhnya bergantung pada curah hujan.

Goeroeh juga menegaskan, keterlambatan awal musim hujan tidak berarti musim hujan akan berlangsung lebih panjang.

Musim hujan tahun ini secara umum diperkirakan memiliki sifat normal, meskipun waktu kedatangannya mengalami keterlambatan.

Sementara itu, puncak musim hujan di Jawa Tengah juga diperkirakan berbeda antar wilayah. Ada daerah yang mencapai puncak pada Januari, sementara wilayah lainnya baru mengalami puncak curah hujan pada Februari hingga Maret.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena peningkatan curah hujan dapat diikuti potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Dengan prediksi awal musim hujan yang berbeda-beda di setiap wilayah Jawa Tengah, masyarakat diimbau tidak menggunakan satu patokan untuk seluruh daerah.

Waktu datangnya hujan perlu dilihat berdasarkan wilayah masing-masing, terlebih setelah Jawa Tengah melewati periode kemarau yang lebih panjang dan dipengaruhi dinamika El Nino.

“Karena itu, masyarakat, termasuk petani, diminta mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG sebelum menentukan aktivitas yang berkaitan dengan kondisi musim. Khusus petani tadah hujan, informasi awal musim hujan menjadi penting untuk menentukan waktu penyemaian dan penanaman, agar tidak terjebak hujan yang hanya bersifat sementara,” pungkasnya.

Berita terkait

Dari Produk Lokal Menuju Pasar Global, UMKM Jakarta Bidik Transaksi Rp4,4 Miliar di ISEF 2026

Dari Produk Lokal Menuju Pasar Global, UMKM Jakarta Bidik Transaksi Rp4,4 Miliar di ISEF 2026

Jakarta - Spektroom : Peluang UMKM Jakarta menembus pasar internasional semakin terbuka melalui Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Fasilitasi Bank Indonesia (BI) terhadap 22 UMKM Jakarta dalam ajang ini menghasilkan potensi kesepakatan bisnis senilai Rp4,4 miliar dengan calon pembeli asal Belanda, sekaligus membuka peluang kemitraan dan memperluas pemasaran produk lokal

Irvan Idris Saleh, Bian Pamungkas
Pemkot Surakarta Perkuat Sinergi dengan Polresta untuk Jaga Keamanan Kota

Pemkot Surakarta Perkuat Sinergi dengan Polresta untuk Jaga Keamanan Kota

Surakarta – Spektroom: Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan Polresta Surakarta dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di tengah tingginya dinamika aktivitas Kota Solo. Komitmen tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menghadiri kegiatan Lepas Kenal Kapolresta Surakarta, di Mapolresta, Jumat malam (16/10/

Ciptati Handayani, Bian Pamungkas
Sadewo Ingin Banyumas Jadi Pusat Pendidikan Unggulan di Jawa Tengah

Sadewo Ingin Banyumas Jadi Pusat Pendidikan Unggulan di Jawa Tengah

Banyumas-Spekttoom ,: Pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran menjadi tantangan yang perlu dijawab Kabupaten Banyumas untuk mencetak generasi muda berdaya saing. Pemerintah daerah menargetkan Banyumas berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan unggulan di Jawa Tengah, tanpa mengesampingkan kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bupati Banyumas Sadewo

Bian Pamungkas
Wako Tanjungpinang Tekankan Kepemimpinan Sekolah yang Reponsif dan Berorientasi pada Peserta Didik

Wako Tanjungpinang Tekankan Kepemimpinan Sekolah yang Reponsif dan Berorientasi pada Peserta Didik

Tanjungpinang–Spektroom : Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah memimpin rapat Koornasi (Rakor) bersama para Kepala Sekolah se-Kota Tanjungpinang untuk mendorong terbangunnya kesamaan langkah diantara satuan pendisikan dalam menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Rakor bersama Kepala sekolah se-Kota Tanjungpinang tersebut Wako, didampingi Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza di Aula

Desmawati, Rafles