Progres Konektifitas Infrastruktur 12 Jembatan Kembali Fungsional dengan Struktur Darurat di Aceh.

Progres Konektifitas Infrastruktur 12 Jembatan Kembali Fungsional dengan Struktur Darurat di Aceh.
Jembatan Bailey yang sudah bisa dimanfaatkan masyarakat di Aceh. ( bpjn aceh)

Spektroom  – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus melakukan penanganan jembatan nasional yang sempat terputus akibat bencana banjir bandang di Provinsi Aceh. Dari Siaran persnya di Jakarta, Rabu (31/12/2025) dilaporkan  dari 16 jembatan yang telah ditangani, sebanyak 12 jembatan sudah kembali fungsional pada lokasi eksisting meskipun masih menggunakan struktur darurat, sehingga lalu lintas tidak terputus.

Percepatan penanganan dilakukan Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) di Aceh dengan berbagai metode tanggap darurat, mulai dari pemasangan Jembatan Bailey, penimbunan oprit, pemasangan pelat baja dan kayu, pemasangan box culvert hingga pemanfaatan jalan alternatif.

Dua belas jembatan nasional yang sudah kembali fungsional dengan menggunakan struktur darurat adalah Jembatan Kreung Tingkeum berlokasi di Kota Bireuen.

Kemudian Jembatan Alue Kulus berada di ruas Batas Bireuen–Bener Meriah–Aceh Tengah.Jembatan Kreung Rongka terletak di ruas Batas Bireuen–Bener Meriah–Aceh Tengah (Lintas Tengah). Jembatan Weihni Lampahan merupakan jembatan dengan tipe box culvert beton bertulang yang dibangun pada 1979.

Dengan fungsionalnya jembatan akan membuka konektifitas di Aceh dan pemulihan perekonomian ( bpjn aceh)

Jembatan Wehni Rongka berada pada ruas penghubung Bireuen–Bener Meriah–Aceh Tengah dan merupakan jembatan rangka baja satu bentang sepanjang 35 meter.

Jembatan Timang Gajah terletak di ruas Batas Bireuen–Bener Meriah–Aceh Tengah. Jembatan ini memiliki panjang 26,2 meter dengan satu bentang, menggunakan struktur gelagar beton pratekan, dan dibangun pada 1993.

Banjir bandang mengakibatkan keruntuhan total struktur jembatan. Penanganan darurat dilakukan melalui pembuatan jalur detour dengan memanfaatkan timbunan, pelat baja, dan kayu, sehingga akses kembali fungsional sejak 24 Desember 2025.

Enam lokasi jembatan lainnya yang sempat terputus juga sudah dapat dilalui secara darurat seperti Jembatan Kreung Meureudu. Jembatan Simamora II sejak 24 Desember 2025, Jembatan Lawe Mengkudu I sejak 23 Desember 2025, Jembatan Lawe Penanggalan sejak 29 Desember 2025 serta Jembatan Krueng Pelang sejak 28 Desember 2025.

Selanjutnya terdapat 3 jembatan yang secara struktur masih terputus, namun mobilitas masyarakat tetap terlayani melalui jalan daerah atau jalur alternative yakni Jembatan Weihni Enang-Enang, Jembatan Jamur Ujung, dan Jembatan Titi Merah.

Kemudian jembatan dalam tahap penanganan lanjutan yakni Jembatan Krueng Beutong. Akses sementara telah difungsikan menggunakan jembatan kayu sejak 15 Desember 2025, dan pemasangan Jembatan Bailey ditargetkan selesai pada 31 Desember 2025.

Berita terkait

Senam Sehat D’Aero Komunitas dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warnai CFD Salero Ternate

Senam Sehat D’Aero Komunitas dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warnai CFD Salero Ternate

Spektroom – Dalam mendukung dan menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mendukung Program Kesehatan, D’Aero Komunitas Ternate (Health & Energy) melaksanakan kegiatan rutin senam sehat setiap hari Minggu yang dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Kegiatan berlangsung di area Car Free Day (CFD) Salero Kota Ternate  Minggu pagi (1/2/2026)

Nanang Adrany, Pelinus Latuheru
Tim Ops Pekat Polda Maluku Gelar Patroli Dialogis, Cegah Aksi Kriminalitas di Pusat Perbelanjaan

Tim Ops Pekat Polda Maluku Gelar Patroli Dialogis, Cegah Aksi Kriminalitas di Pusat Perbelanjaan

Spektroom- Tim Operasi Pemberantasan Penyakit Masyarakat (Pekat) Salawaku Polda Maluku, gencar melaksanakan patroli dialogis di tempat-tempat keramaian seperti di pusat perbelanjaan, pasar, hingga terminal angkutan umum. Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini bertujuan mencegah terjadinya aksi premanisme, peredaran minuman keras ilegal, narkoba, prostitusi hingga kejahatan lainnya yang kerap meresahkan masyarakat.

Eva Moenandar, Pelinus Latuheru