Reses, Cornelis Sentuh Soal Gizi dan Lingkungan di Kab. Landak Kalbar
Landak, Spektroom.co.id - Di halaman rumah warga yang sederhana di Dusun Kubu, Desa Paloan, Rabu sore itu terasa berbeda. Anak-anak berlarian di sela kursi plastik, para ibu duduk berkelompok sambil menggendong bayi, sementara para orang tua menunggu dengan wajah penuh harap.
Di tengah suasana hangat itulah, Anggota Komisi XII sekaligus Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Cornelis, menyelesaikan rangkaian resesnya di 6 titik Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Rabu (25/02/2026).
Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025–2026 itu tak sekadar agenda formal. Di Desa Paloan, pertemuan digelar di Dusun Kubu, Jelutung, Lanso, dan Binuang. Sementara di Desa Gombang, Cornelis menyapa warga Dusun Karatop dan Bayankng.
Namun lebih dari sekadar lokasi, yang menjadi pusat perhatian adalah cerita-cerita warga tentang anak, sekolah, dan masa depan. Di hadapan para ibu, mantan Gubernur Kalimantan Barat 2 periode itu berbicara lugas soal stunting.
Ia tak menggunakan istilah rumit. Ia memilih bahasa dapur yang mudah dipahami. “Untuk Ibu-ibu, tolong diperhatikan anak bayinya, tolong diperhatikan proteinnya.
Negara kita sedang fokus menghadapi persoalan stunting ini. Salah satu sumber protein yang baik dan terjangkau adalah telur,” ujarnya.
Beberapa ibu mengangguk pelan. Bagi mereka, telur bukan sekadar lauk, tetapi kadang menjadi pilihan terakhir saat harga kebutuhan lain melonjak. Di sinilah percakapan berubah menjadi refleksi bersama—tentang bagaimana gizi sederhana bisa menentukan kualitas generasi.
Cornelis mengaitkan isu itu dengan pendidikan wajib 12 tahun. Baginya, anak-anak Landak tak cukup hanya tumbuh tinggi, tetapi juga harus tumbuh cerdas. Generasi yang sehat dan terdidik, menjadi penentu apakah kekayaan alam Kalimantan Barat kelak dikelola oleh putra daerah sendiri atau tidak.
Isu lingkungan pun mengemuka. Di tengah perubahan zaman dan tekanan eksploitasi sumber daya, ia mengingatkan warga agar menjaga tanah mereka.“Menjaga lingkungan Kalimantan adalah kewajiban kita bersama. Ini adalah aset berharga untuk cucu cicit kita kelak,” tegasnya.
Menjelang akhir pertemuan, Cornelis membagikan bingkisan berisi telur dan minyak goreng ia menyebutnya sebagai “oleh-oleh”. Bukan soal besar kecilnya bantuan, melainkan simbol kedekatan dan perhatian.
Senja yang mulai turun di Paloan dan Gombang, pertemuan itu meninggalkan kesan sederhana namun mendalam: tentang harapan agar anak-anak tumbuh sehat, sekolah tak terputus, dan tanah Kalimantan tetap lestari agar generasi berikutnya tak hanya menjadi penonton di kampung halamannya sendiri.