Riuh Teriakan Anak TK dan Pesona Ikan Raksasa di Purbasari Pancuran Mas
Spektroom – Riuh rendah suara anak-anak taman kanak-kanak mendadak memenuhi udara. Mata-mata kecil itu membulat, tangan mungil menunjuk ke arah kaca tebal akuarium raksasa. Seekor ikan berukuran luar biasa melintas perlahan, tubuhnya panjang dan kokoh, seolah sedang berparade di hadapan para penonton cilik.
“Itu ikannya gede banget!” teriak beberapa anak hampir bersamaan.
Ikan raksasa itu adalah Arapaima gigas, salah satu ikan air tawar terbesar di dunia. Habitat aslinya berada di Sungai Amazon, Amerika Selatan.
Di balik kaca akuarium raksasa Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas, Kabupaten Purbalingga, ikan eksotis itu berenang anggun, menjadi pusat perhatian rombongan siswa TK dari berbagai daerah.
Tak jauh dari situ, teriakan lain terdengar lebih menggelitik.
“Wow… kiyeh... akeh bayane sing lagi pada nglangi,” ujar Riski, siswa TK Binangun Cilacap, dengan logat ngapak yang medhok. Yang dimaksud Riski bukan buaya sungguhan, melainkan Aligator Gar, ikan purba asal Sungai Amazon Amerika Serikat yang sekilas memang menyerupai buaya kecil.

Para guru pendamping tampak sabar dan telaten. Satu per satu jenis ikan dikenalkan kepada murid-muridnya. Dengan suara lembut, mereka mengubah kekaguman polos anak-anak menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Ini namanya ikan Arapaima gigas, berasal dari Sungai Amazon berat ya bisa 200 kg lebih. Sungai Amazon itu ada di mana, anak-anak?” tanya Bu Fiqi, guru TK Masyithoh Tegal.
Beberapa tangan kecil terangkat, sebagian lainnya saling menatap, mencoba mengingat pelajaran geografi versi taman wisata.
Itulah sekelumit suasana di Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas, destinasi wisata edukatif yang berlokasi di Desa Purbayasa, Kecamatan Padamara.

Berjarak sekitar lima kilometer dari pusat kota Kabupaten Purbalingga melalui jalur utara Padamara–Sumbang, tempat ini, kini menjadi salah satu tujuan favorit wisata pendidikan di Jawa Tengah.
Menurut Humas Purbasari Pancuran Mas, Ardian, taman wisata ini berdiri sejak 4 Juni 2001. Didirikan oleh H. Sarimun Budi Purwanto, kawasan seluas awalnya 7.500 meter persegi itu berawal dari sebuah hobi: mengoleksi ikan air tawar dan kecintaan mendalam terhadap alam.
“Hobi tersebut didukung oleh kondisi geografis yang memungkinkan, serta dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintah daerah,” ujar Ardian, Rabu (14/1/2024).
Seiring waktu, hobi itu tumbuh menjadi aset wisata daerah. Saat ini, Purbasari Pancuran Mas berkembang menjadi 7 hektar dengan 23 wahana, ditambah satu wahana baru bernama “Kansae” yang diresmikan pada Desember 2025. Wahana baru berupa Akuarium raksasa ini, konon yang pertama di Jawa Tengah, dengan kaca yang didatangkan dari China.
Ribuan jenis ikan dari berbagai belahan dunia khususnya Amerika mengisi akuarium raksasa yang menjadi ikon utama taman wisata ini.
Bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun menemukan kesan tersendiri. Agus Sukoyo, salah seorang pengunjung, menilai Purbasari Pancuran Mas bukan sekadar tempat rekreasi pendidikan tapi juga tempat wisata alam yang cocok untuk semua umur.
“Tempat ini cocok untuk pendidikan, hiburan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ini aset daerah yang luar biasa,” katanya.
Ia bahkan berencana membawa anggota Persatuan Pensiunan PP RRI wilayah Jogja, Solo, Semarang, dan Purwokerto (JOGLOSETO) untuk kegiatan silaturahmi di lokasi tersebut.
Pada hari biasa, jumlah pengunjung berkisar antara 300 hingga 1.000 orang. Angka itu melonjak signifikan saat akhir pekan dan musim liburan.
Di balik kaca akuarium raksasa dan tawa anak-anak, Purbasari Pancuran Mas terus membuktikan diri sebagai ruang belajar yang hidup—tempat pengetahuan, alam, dan kegembiraan bertemu dalam satu pengalaman tak terlupakan.