Satu Kotak Susu, Ujian Ketahanan Gizi di Marau
Spektroom - Di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang sebagai fondasi generasi emas menghadapi ujian nyata.
Sebanyak 417 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi paket makanan program tersebut pada pertengahan Februari 2026.
Anak-anak yang seharusnya pulang sekolah dengan energi dan semangat belajar justru mengeluhkan mual dan pusing. Mereka mendapat penanganan medis.
Bagi para orang tua, angka 417 bukan sekadar data - melainkan kecemasan yang terasa dekat.
Di wilayah dengan akses layanan kesehatan yang tidak selalu mudah dijangkau, satu peristiwa cepat berubah menjadi kekhawatiran kolektif.
Hingga kini, penyebab pasti insiden tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, saat dikonfirmasi pada Sabtu (21/02/2026) pukul 14.01 WIB menyampaikan bahwa hasil uji laboratorium belum keluar.
“Belum ada hasil. Masih menunggu jawaban dari laboratorium,” ujarnya.

Ia juga meluruskan informasi yang sempat berkembang. Dalam pelaksanaan MBG, tidak setiap hari terdapat kotak susu dalam paket makanan.
Menu disusun secara rotasi dan diselingi buah-buahan sebagai bagian dari komposisi gizi yang telah dirancang.

Penjelasan ini penting. Di ruang publik, satu kotak susu kerap menjadi simbol paling kasat mata dari komitmen negara terhadap pemenuhan gizi anak sekolah.
Namun ketahanan gizi tidak berhenti pada simbol. Ia bertumpu pada konsistensi standar, ketelitian distribusi, serta pengawasan yang tidak lengah.
Program MBG merupakan bagian dari ikhtiar besar membangun kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Di atas kertas, ia adalah investasi masa depan. Di lapangan, ia menuntut akurasi, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Peristiwa di Marau bukan sekadar insiden. Ia menjadi pengingat bahwa setiap program publik berskala luas selalu memiliki titik rawan.
Di situlah sistem diuji - bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk diperkuat.
Mengawal ketahanan gizi berarti memastikan setiap distribusi berjalan sesuai standar, setiap persoalan ditangani secara transparan, dan setiap evaluasi dilakukan terbuka.
Kepercayaan publik tidak dibangun dari ketiadaan masalah, tetapi dari kesungguhan memperbaikinya.
Bagi orang tua di Marau, harapan mereka sederhana: anak-anak kembali sehat, makanan yang diterima aman, dan komitmen negara tetap terjaga.
Satu kotak susu mungkin tampak kecil. Namun di baliknya tersimpan makna besar - tentang tanggung jawab, tentang masa depan, tentang generasi yang sedang tumbuh.
Jika Indonesia ingin benar-benar menapaki 2045 dengan generasi yang kuat dan cerdas, maka setiap porsi makanan, setiap rantai distribusi, dan setiap standar keamanan harus dijaga seteguh cita-citanya.
Karena dari ruang-ruang kelas di Marau, harapan itu sedang dirawat dan diuji.
(Feature oleh: Apolonius Welly)