Seabad Jam Gadang, Bukittinggi Bangkit Menuntut Keadilan Sejarah
Bukittinggi-Spektroom : Suasana penuh haru dan semangat kebangsaan mewarnai Seminar Nasional “Bukittinggi Kota Perjuangan” yang digelar di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/6/2026) pagi.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional, sejarawan, budayawan, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Hadir dalam kesempatan tersebut Chalid Prawiranegara, Tan Sri DR. Rais Yatim, Arsitek Jam Gadang, Prof. DR. Anhar Gonggong, Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Prof. DR. Agus Mulyana,M.Hum, Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Jogyakarta, unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, serta Wali Kota H.M Ramlan Nurmatias, SH Datuak Nan Basa dan Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, STP Sutan Saidi
Seminar ini menjadi momentum penting menandai satu abad keberadaan Jam Gadang sebagai ikon yang terus menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Bukittinggi.
Di tengah perjalanan bangsa menuju Indonesia yang semakin maju, para peserta menegaskan bahwa sejarah Kota Bukittinggi sebagai kota perjuangan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah nasional, termasuk keterkaitannya dengan Jakarta dan Yogyakarta.
Dalam forum tersebut, mengemuka pandangan bahwa sejarah perjuangan bangsa, khususnya terkait Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, perlu direkonstruksi dan diperkuat melalui museum serta narasi sejarah yang lebih adil, Perlunya sejarah direkonstruksi melalui Museum PDRI agar masyarakat kita memiliki memori kolektif atas masa lalunya dan kebanggaan terhadap sejarah kebangsaannya,” ungkap Agus Mulyana
Para peserta juga menyoroti pentingnya memasukkan muatan lokal Bukittinggi secara lebih proporsional dalam penulisan sejarah nasional .
Selama ini, kontribusi daerah yang pernah menjadi pusat penyelamatan republik dinilai belum mendapatkan ruang yang memadai.
“Jangan sampai peran Bukittinggi hanya ditulis dalam satu paragraf. Kota ini memiliki jejak sejarah yang sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa-masa kritis,” tegas salah satu pembicara.
Momen paling emosional dalam seminar terjadi ketika Chalid Prawiranegara menyampaikan pandangannya mengenai sosok ayahnya, Syafruddin Prawiranegara.
Ia mengaku bangga karena nama ayahnya akan diabadikan sebagai nama Perpustakaan Daerah Kota Bukittinggi yang dalam waktu dekat akan diresmikan.
Namun di balik kebanggaan tersebut, tersimpan kesedihan yang mendalam.
“Sebagai anak Mr. Syafruddin Prawiranegara, di satu sisi saya bangga nama besar ayahanda saya diabadikan. Namun di sisi lain saya sedih karena ayah saya belum tercatat secara layak dalam sejarah, padahal beliau telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi republik pada masa kemerdekaan,” ungkap Chalid dengan nada penuh haru.
Pernyataan itu mendapat perhatian serius dari peserta seminar. Banyak yang menilai bahwa jasa para tokoh penyelamat republik pada masa PDRI perlu mendapatkan pengakuan yang lebih luas dalam narasi sejarah nasional.
Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa sejarah PDRI harus diluruskan dan tidak boleh diputarbalikkan.
Menurutnya, masyarakat Sumatera Barat memiliki kontribusi besar dalam menjaga eksistensi negara ketika Indonesia menghadapi ancaman pada masa agresi militer Belanda.
“Ada banyak tuntutan dan pengorbanan masyarakat Sumatera Barat pada masa PDRI. Pada dasarnya sejarah PDRI harus diluruskan dan tidak boleh diputar-putar,” tegasnya.
Ramlan juga menekankan bahwa kekuatan utama masyarakat Sumatera Barat dalam perjuangan bukan semata-mata senjata, melainkan kecerdasan, pemikiran, dan gagasan yang dituangkan melalui tulisan serta strategi perjuangan.
“Senjata orang Sumbar adalah pemikiran dan kertas. Dari sanalah lahir strategi, diplomasi, dan keputusan-keputusan penting yang menyelamatkan republik,” ujarnya.
Seminar Nasional “Bukittinggi Kota Perjuangan” menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi identitas bangsa.
Dari Bukittinggi, kembali mengalir pesan kuat bahwa perjuangan para pendiri bangsa dan tokoh PDRI tidak boleh terlupakan.
Sebab tanpa memahami sejarah secara utuh, bangsa ini berisiko kehilangan arah dalam melangkah menuju masa depan. (Rita-jma)