Sekadau Dilanda Antrean Panjang BBM, Suplai Tak Menentu Jelang Ramadan
Sekadau - Spektroom : Krisis distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalimantan Barat belum juga mereda.
Di Kabupaten Sekadau, antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat di sejumlah SPBU menjadi pemandangan harian.
Warga rela mengantre sejak dini hari demi mendapatkan Pertalite, Pertamax, maupun Biosolar.
Kondisi ini terjadi akibat suplai BBM yang belum kembali normal. Pasokan masih bergantung pada pengiriman dari Depot Pertamina Pontianak dengan waktu tempuh enam hingga delapan jam perjalanan darat.
Admin SPBU 64.796.003 Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir, Sumi, mengungkapkan suplai yang diterima kerap tidak sesuai dengan pemesanan.
“Untuk hari ini, Pertalite 16 KL tiba sekitar pukul 02.00 WIB. Setelah pembongkaran, penjualan dimulai pukul 03.00 WIB hingga menjelang siang. Sejak pagi antrean sudah panjang,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam sebulan terakhir pihak SPBU tidak dapat memastikan jenis dan jumlah BBM yang akan diterima.
Kepastian baru diketahui setelah sopir tangki mendapatkan informasi dari depot, menyesuaikan ketersediaan stok.
Situasi serupa terjadi di SPBU 64.735.05 Desa Peniti. Admin SPBU, Saiful, menyebut jadwal suplai kini bergeser ke malam hari.
“Diperkirakan tiba pukul 22.00 WIB dengan order Pertalite 8 KL, Pertamax 8 KL, dan Biosolar 8 KL.
Karena datang malam, penjualan langsung dilakukan setelah pembongkaran selesai,” jelasnya.
Mayoritas konsumen di SPBU Peniti merupakan kendaraan lintas kabupaten dari arah Pontianak menuju wilayah hulu Kalbar.
Ketidakpastian waktu distribusi membuat masyarakat kerap panik, terutama ketika BBM habis pada siang hari.
Kepala Bidang Perdagangan dan Ketenagakerjaan Sekadau, Yoewono Sudarsono, membenarkan kendala suplai tersebut. Menurutnya, antrean di depot turut memperpanjang waktu distribusi.
“Suplai masih dari Pontianak. Selain jarak tempuh, antrean di depot juga menjadi kendala,” katanya.
Pemkab Sekadau telah memanggil perwakilan Pertamina untuk meminta kejelasan distribusi. Dari penjelasan yang diterima, hambatan dipicu faktor alam.
Ponton tanker tidak dapat masuk ke aliran Sungai Kapuas untuk menyuplai BBM ke Depot Pertamina Sintang, yang selama ini menjadi penyangga distribusi lima kabupaten di wilayah timur Kalbar.
Wakil Bupati Sekadau, Subandrio, mendesak Pertamina segera mencari solusi, terlebih menjelang Ramadan dan Idulfitri ketika kebutuhan BBM dipastikan meningkat.
Jika distribusi tak segera stabil, kekhawatiran kelangkaan dan lonjakan antrean berpotensi semakin parah, menambah beban masyarakat yang bergantung pada kelancaran pasokan energi untuk aktivitas sehari-hari.