Sektor Makanan dan Minuman, Dominasi Industri Halal di Indonesia
Spektroom - Kesadaran umat Islam terhadap konsumsi produk halal terus meningkat, seiring dengan besarnya populasi Muslim dunia yang mencapai sekitar 2,1 miliar jiwa atau lebih dari 28 persen populasi dunia.
Di Indonesia sendiri, jumlah penduduk Muslim mencapai sekitar 250 juta jiwa atau sekitar 11 persen dari populasi Muslim dunia.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, pada Talkshow Kawasan Industri Halal bertema “Akselerasi Kawasan Industri Halal: Mewujudkan Lampung sebagai Pusat Produksi Halal Berkualitas”, yang digelar di Gedung Pusiban, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (30/1/2026).
Menurut Wagub ini merupakan peluang besar bagi Indonesia, termasuk Provinsi Lampung, untuk menjadi kiblat pengembangan produk halal dunia.

Jihan menjelaskan, Provinsi Lampung memiliki karakteristik yang sangat potensial karena lebih dari 93 persen penduduknya beragama Islam.
Kondisi tersebut menjadikan Lampung bukan hanya pasar yang besar, tetapi juga memiliki peluang besar untuk naik kelas sebagai produsen utama industri halal nasional bahkan global.
"Pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin selamanya hanya menjadi pasar, atau naik kelas menjadi produsen utama?” tegasnya.
Wagub menambahkan bahwa saat ini industri halal di Indonesia masih didominasi oleh sektor makanan dan minuman.
Namun, hal tersebut justru menjadi pintu masuk terbesar dalam pengembangan industri halal karena sektor pangan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
Instrumen Ekonomi Modern
Sementara narasumber lain, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) RI, Ahmad Haikal Hasan, menyampaikan pandangan strategis mengenai peran halal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Haikal Hasan menegaskan bahwa halal tidak boleh dipandang semata sebagai isu keagamaan, melainkan sebagai instrumen ekonomi modern yang bersifat universal.
“Halal adalah growth economic engine. Negara-negara besar yang hari ini menjadi produsen halal dunia tumbuh karena mereka masuk ke industri halal lebih dulu,” tegasnya.
Haikal Hasan juga menyoroti kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan berbagai riset, sektor halal berkontribusi sekitar 26 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, mencakup makanan dan minuman, obat-obatan, kosmetik, barang gunaan, hingga fesyen.
Sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya penguatan kemandirian ekonomi, industrialisasi berbasis nilai tambah, serta pembangunan dari daerah, terus Babe Haikal, mendorong Provinsi Lampung untuk memanfaatkan potensi halalnya secara optimal agar mampu bertransformasi menjadi produsen halal berkualitas yang terhubung langsung dengan rantai pasok halal global.
"Halal harus ditempatkan sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional (growth economic engine), bukan semata-mata dipahami sebagai kepatuhan regulasi dan keagamaan semata" pungkasnya.(@Ng).