Senyum Pedagang UMKM Menjelang Bel Sekolah Berbunyi
Jakarta - Spektroom : Riuh rendah suara tawar-menawar memadati sudut-sudut pusat grosir ibu kota. Menjelang tahun ajaran baru sekolah 2026/2027, geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jakarta melonjak tajam. Lokasi belanja legendaris seperti Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat dan Pasar Jatinegara di Jakarta Timur sesak dipadati para orang tua.
Mereka datang membawa satu misi: berburu seragam, tas, dan sepatu baru untuk sang buah hati
Bagi para pedagang, momen minggu terakhir liburan sekolah ini adalah puncak panen raya. Omzet mereka meroket hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. Pasar tradisional dan lapak kaki lima tetap menjadi primadona karena menawarkan harga yang jauh lebih ramah kantong ketimbang toko swalayan modern.
Pemandangan serupa juga terlihat di sepanjang bantaran Kanal Banjir Timur (KBT), mulai dari kawasan Cipinang hingga Duren Sawit. Di sana, para pedagang kaki lima menggelar lapak sepatu di bawah langit sore.
"Senin besok anak sudah mulai masuk sekolah. Ini beli satu lagi sepatu buat anak SD. Harga awalnya Rp160 ribu, syukurlah bisa ditawar jadi Rp145 ribu," ujar Ibu Rodiah kepada Spektroom, Minggu (12/7/2026). Ia tersenyum lega sambil menenteng plastik berisi sepatu baru. Sepatu lama anaknya memang sudah sempit.

Rizal, seorang pedagang sepatu di kawasan tersebut, tak henti-hentinya mengucap syukur. Baginya, tahun ajaran baru kali ini adalah berkah nyata yang mengalir ke dapurnya.
"Alhamdulillah, Pak. Sepekan jelang masuk sekolah ada rezeki lebih untuk menghidupi keluarga," ucap Rizal dengan senyum yang mengembang lebar di sela-sela melayani pembeli.
Berkah tumpah ke Jasa Fotokopi dan Pangkas Rambut
Napas segar ekonomi ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh pedagang sandang. Hari pertama masuk sekolah biasanya diawali dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru maupun siswa lama. Tahun ini, pihak sekolah aktif membagikan materi dan panduan MPLS secara digital via WhatsApp kepada orang tua murid.
Kondisi tersebut langsung memicu antrean panjang di berbagai tempat fotokopi. Para orang tua berbondong-bondong mencetak (print) dan menjilid lembaran panduan tersebut. Bagi siswa baru, mereka juga sibuk memesan papan nama (nametag).

"Lumayan juga, tiga anak sekaligus ngeprint, jilid buku, dan bikin nametag. Habis Rp100 ribu buat persiapan MPLS seminggu awal masuk sekolah," kata Ibu Rina, orang tua murid lainnya yang ditemui di lokasi yang sama.
Bergerak ke wilayah Pondok Bambu, Jakarta Timur, denyut nadi UMKM juga dirasakan oleh para tukang pangkas rambut. Deni, salah satu pemilik kios pangkas rambut di kawasan tersebut, mengaku kuwalahan melayani anak-anak sekolah yang ingin merapikan rambut agar tampil rapi di hari pertama sekolah.
"Tarif pangkas rambut anak-anak Rp20 ribu, kalau dewasa Rp25 ribu. Hari ini banyak sekali anak sekolah yang datang, sampai-sampai saya agak telat makan siang karena hanya berdua melayani antrean," cerita Deni penuh semangat.
Dukungan untuk Usaha Akar Rumput
Melihat besarnya kontribusi dan potensi usaha akar rumput ini, pemerintah dan pihak terkait terus berkomitmen memberikan kemudahan. Langkah nyata dilakukan dengan membuka lebar akses permodalan bagi UMKM melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bersubsidi.
Selain modal, sisi pemasaran juga diperkuat lewat transformasi kewirausahaan terpadu yang berbasis digital. Kombinasi kedua dukungan ini diharapkan mampu menjaga asa dan membantu usaha kecil agar tetap tumbuh kuat sekaligus tangguh di tengah situasi ekonomi yang menantang.
Jelang hari Senin, di balik langkah kaki anak-anak yang bersiap menuju sekolah dengan sepatu barunya, ada roda ekonomi warga kecil Jakarta yang berputar lebih kencang.