Silaturahmi : Bersatunya Agama di Nusantara dan Berakulturasi Dengan Budaya Lokal
Jakarta Selatan - Spektroom: Suasana halal-bilhalal Persatuan Pensiunan Radio Republik Indonesia (PP RRI) kali ini berbeda dengan suasana halal-bilhalal sebelumnya. Namun, suasana kebathinannya tetap sama.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PP RRI Pusat Drs. Anhar Achmad, SH, MH, MM pada Halal Bihalal PPRRI bertajuk Merajut Silaturahmi dan Kebersamaan Dalam Bingkai Kesederhanaan, berlangsung di Kedai Sudut Selatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Rabu (15/4/2026).
Pemimpin Umum Spektroom.co.id ini menambahkan kenapa Halal Bihalal digelar disebuah Kedai sederhana karena mengikuti himbauan pemerintah.
"Apa sebab kita di sini? Karena kita ini mengikuti kebijakan pemerintah. Bahwa pemerintah menghimbau halal-bilhalal tidak secara berlebihan dan mewah. Disamping juga, karena RRI tidak menyelenggarakan halal-bilhalal" ujarnya beralasan.
Menurut Anhar Achmad sangat tidak elok jika PP RRI ber halal bihalal di RRI dan yang pasti tidak menggunakan fasilitas negara.
"Oleh sebab itu, kami tidak menyelenggarakan halal-bilhalal di sana (di RRI : red) dan kebetulan, ini juga namanya bukan kafe. Kalau kafe itu kesannya mewah, ini adalah sebuah Kedai" terangnya lagi.
Ditempat yang sama Pembina PP RRI Rosarita Niken Widiastuti, Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antar Lembaga dan Infrastruktur Organisasi - Dewan Pers mengapresiasi bahwa Spektroom.co.id telah mendapatkan sertifikasi.

Perlu diketahui banyak media yang perlu bertahun-tahun untuk mendapatkan sertifikasi dari Dewan Pers.
"Bahkan ada yang sampai 4 tahun sampai hari ini juga belum terferifikasi. Jadi teman-teman dari Spektroom ini ternyata sangat disiplin untuk melengkapi semua persyaratan. Tapi setelah ini, nanti akan kami evaluasi kembali apa-apa yang perlu dilengkapi" katanya.
Niken menekankan sertifikat itu bukan hanya sekedar kertas, bukan sekedar administratif. Tapi ini adalah komitmen. Komitmen untuk menegakkan pers yang sehat, pers yang merdeka, tapi bertanggung jawab.
Untuk itulah Niken mewanti wanti kepada jurnalis Spektroom untuk menjaga profesionalisme serta mengapresiasi kepada para purna karya RRI yang mengabdikan dirinya kepada Spektroom.co.id
"Dan apresiasi kepada seluruh jurnalis ataupun teman-teman purna karya LPP RRI yang luar biasa sekali semangatnya. Jadi sering ada ungkapan old soldier never die, they just fade away. Jadi kalau diterapkan oleh media, bisa juga old jurnalis never die, they just fade away. Yang kita ambil adalah semangatnya sekalipun sudah purna tetapi betul-betul memberikan kontribusi" tandas Niken mengapresiasi.
Sementara dalam tauziyahnya, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU KH. Imam Pituduh yang mengurai makna Silaturahmi menyatakan Silaturahmi berawal dari bersatunya Agama di Nusantara, yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal.
Akulturasi budaya inilah kemudian melahirkan diksi baru namanya halal-bihalal. Sejak kapan halal-bihalal ini dimulai? Sejak jaman Bung Karno, bertemu dengan Ki Wahabasbullah, saat situasi kebangsaan kita lagi tidak baik-baik saja pada saat itu.
Akhirnya cara merukunkannya dibuatlah diksi di istana negara, dibuatlah istilah halal-bihalal. Makna halal-bihalal itu adalah mencari kehalalan dengan cara yang halal.
"Ini sudah diakulturasi dengan budaya lokal. Betapa dahsyatnya karena halal-bihalal itu mengandung lima silat. Yang pertama halal-bihalal itu mengandung silaturohim, meyambungkan kasih sayang, silaturohim" terang Gus Imam.
Silat yang kedua, lanjut Gus Imam silatul amal, harus ada common action, tindakan bersama. Kalau gak ada common action, jalan sendiri-sendiri Silaturohim tidak ada artinya.
"Harus ada tindakan bersama, misi bersama, usaha bersama dan silat yang tiga, adalah silatul mal. menyambungkan dengan harta, amal tindakan. Silatul mal sudah dijalankan, harus ada silatul ilmi atau ilmu dan Terakhir yang paling penting adalah silatul arwah" katanya lagi.
Gus Imam menjelaskan, silatul arwah adalah istilah dalam tradisi Islam Nusantara yang merujuk pada ikatan batin, hubungan spiritual, atau komunikasi ruhani dengan leluhur yang telah wafat.
"Praktik ini umumnya diwujudkan melalui ziarah kubur, mendoakan ahli kubur, dan menghadiri acara haul" ujar Gus Imam mengakhiri tauziyahnya.(@Ng).