Tepat Waktu di Atas Rel, Tertahan di Peron Cerita Penumpang KRL di Awal Tahun
Spektroom. – Jarum jam belum menunjukkan pukul tujuh pagi ketika ribuan orang telah memadati peron Stasiun Bogor. Wajah-wajah lelah bercampur harap: tiba tepat waktu di kantor tanpa harus bertaruh dengan kemacetan jalan raya. Di sinilah Kereta Rel Listrik (KRL) menjadi sandaran utama mobilitas warga Jabodetabek di awal tahun.
Bagi Sjam Isra, KRL bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
“Saya pakai kereta karena waktunya pasti. Mau hujan, macet, atau kecelakaan di jalan, kereta tetap jalan,” ujarnya singkat sambil menunggu pintu gerbong terbuka.
Data PT KAI Commuter menunjukkan, rata-rata pengguna KRL Jabodetabek telah melampaui 1 juta penumpang per hari pada hari kerja. Pada momen pasca-libur dan awal tahun, angka tersebut kerap meningkat signifikan seiring normalisasi aktivitas perkantoran dan sekolah.
KRL Bogor Line menjadi salah satu lintas tersibuk dengan beban penumpang tertinggi.
Namun kepastian waktu perjalanan di atas rel belum sepenuhnya diikuti kenyamanan di stasiun. Di titik akhir seperti Stasiun Bogor, persoalan justru muncul ketika ribuan penumpang turun hampir bersamaan dari satu rangkaian kereta.
Satu rangkaian KRL terdiri dari 10 hingga 12 kereta atau gerbong, masing-masing mampu mengangkut lebih dari 100 penumpang, termasuk yang berdiri. Artinya, dalam satu kedatangan kereta, lebih dari 1.000 orang harus bergerak keluar dalam waktu nyaris bersamaan. Kondisi ini menjadikan peron dan akses keluar stasiun sebagai bottleneck utama.
Manajemen arus naik dan turun penumpang di Stasiun Bogor masih dilakukan secara manual. Petugas Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) mengatur antrean dengan membagi jalur penumpang naik dan turun. Penumpang naik diprioritaskan melalui gerbong depan, sementara penumpang turun diarahkan ke sisi luar rangkaian.

Masalah muncul ketika ribuan penumpang turun serentak dari seluruh gerbong. Arus manusia tak terhindarkan saling berhadapan. Antrean mengular, pergerakan melambat, dan waktu tunggu bertambah.
Pada jam sibuk pagi dan sore, kemacetan penumpang di peron menjadi pemandangan rutin.
“Keretanya cepat, tapi keluarnya lama. Kadang turun kereta bisa makan waktu 5–10 menit sendiri,” keluh seorang penumpang perempuan yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini menunjukkan paradoks layanan KRL: transportasi publik yang unggul dalam kepastian waktu perjalanan, namun tertinggal dalam manajemen penumpang di simpul stasiun. Ketergantungan pada pengaturan manual dinilai tidak lagi sebanding dengan lonjakan volume pengguna.
Tanpa peningkatan infrastruktur peron, sistem pengaturan arus berbasis teknologi, serta redistribusi titik keluar-masuk penumpang, kepadatan ini berpotensi terus berulang. Padahal, keberhasilan transportasi publik tidak hanya diukur dari kecepatan kereta berjalan, tetapi juga dari kelancaran manusia bergerak sebelum dan sesudah perjalanan.
Di tengah tingginya minat masyarakat beralih ke transportasi publik, tantangan KRL di awal tahun ini menjadi pengingat: tepat waktu saja belum cukup. Kenyamanan dan keselamatan di stasiun harus berjalan seiring agar transportasi massal benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar pelarian dari macet jalanan.
Penulis : Haryanto Adi
Editor. : Biantoro