Tiga Hari Menuju Hunian Baru — Harapan Warga Situkung di Tengah Duka Longsor
Udara lembap bercampur bau tanah basah masih terasa kuat di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Banjarnegara, Senin pagi itu. Sisa-sisa longsor yang terjadi sehari sebelumnya membentuk bentang luka besar selebar 100 meter di lereng hutan pinus, melumat puluhan rumah warga. Di ujung jalan, tenda-tenda pengungsian berjejer, menjadi tempat bernaung bagi ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal.
Di tengah suasana muram itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi datang menyapa para penyintas. Satu per satu ia menghampiri warga, mencoba menghadirkan ketenangan di tengah kecemasan. Suaranya tegas, namun terasa ingin menguatkan.
“Hunian sementara sudah disiapkan. Tiga hari lagi mulai ditempati,” katanya, disambut anggukan dan sorakan kecil dari warga yang sejak kemarin hanya bisa berteduh di bawah tenda darurat.

Longsor besar yang terjadi Minggu siang itu memaksa lebih dari 800 warga Situkung mengungsi. Sebanyak 30 rumah rusak dan 886 jiwa dipindahkan ke titik-titik aman. Namun di balik upaya penanganan cepat itu, ada satu pekerjaan besar yang belum selesai: pencarian 26 warga yang masih belum ditemukan.
Bagi sebagian keluarga, kepastian hunian sementara bukanlah satu-satunya harapan. Seorang warga, yang dengan mata berkaca-kaca mendatangi Gubernur, hanya ingin satu hal: ibunya segera ditemukan. Di titik inilah kesedihan kolektif begitu terasa—antara kehilangan rumah, kecemasan akan kondisi tanah yang masih labil, dan doa yang tak putus untuk keluarga yang hilang.
Ahmad Luthfi memahami betul ketegangan itu. “Yang penting, tetap di tempat aman. Jangan kembali ke rumah. Tanah masih berpotensi bergerak,” pesannya. Ia menyampaikan bahwa 500 personel akan dikerahkan esok pagi untuk mempercepat pencarian.
Dalam tenda lain, Etini—seorang ibu yang rumahnya turut menjadi korban—tak bisa menahan air matanya saat mengingat detik-detik bencana terjadi. Ia masih teringat jelas ketika warga berteriak dan berlari, menyuruh siapa pun untuk menjauh dari rumah.
“Kami lari ke hutan. Tanahnya bunyi, kayak mau pecah. Terus semuanya gelap,” ceritanya sambil menggenggam bantuan yang baru ia terima. “Terima kasih Pak Gubernur,” ucapnya lirih.
Meski duka masih pekat, roda penanganan bencana terus bergerak. Pemprov Jateng membagi penanganan menjadi empat klaster: pengungsian, logistik, kesehatan, dan pendidikan. Anak-anak di pengungsian tetap diarahkan untuk belajar, meskipun ruang kelas sementara kini berupa tikar dan meja lipat di bawah tenda.
Di lapangan, BPBD, Basarnas, TNI-Polri, dan relawan tak berhenti memetakan lokasi hunian sementara sekaligus hunian tetap. Relokasi dipastikan berlangsung bertahap, memastikan seluruh kebutuhan dasar—pangan, sandang, hingga pekerjaan—terpenuhi.
Sore itu, matahari turun perlahan di balik bukit Situkung. Para pengungsi duduk berkelompok, sebagian memandang bekas kampung mereka yang kini berubah menjadi hamparan tanah coklat yang terbelah. Jalan panjang pemulihan menanti, tetapi satu hal tampak jelas: harapan mulai melangkah, setidaknya dengan kabar bahwa dalam tiga hari, mereka tak lagi tidur di GOR maupun kantor kecamatan Pandan Arum..
Di tengah kehancuran itu, janji hunian baru menjadi titik kecil terang yang menjaga semangat warga tetap menyala. Meski kehilangan banyak, mereka tahu mereka tidak sendirian. Dan di Situkung, harapan itu lebih dari sekadar tempat tinggal—ia adalah langkah pertama untuk bangkit kembali.//
Penulis. : Biantoro