Try Out UTBK Gratis Tembus Pedalaman, Pemprov Kalteng Pangkas Ketimpangan Akses Belajar
Palangka Raya-Spektroom : Pemerintah provinsi Kalimantan Tengah menghadirkan try out UTBK gratis sebagai solusi konkret bagi siswa di wilayah pedalaman yang selama ini kesulitan mengakses bimbingan belajar.
Pemprov KalTeng dibawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah menghadirkan solusi konkret atas keterbatasan akses bimbingan belajar (bimbel) bagi siswa, khususnya di wilayah pedalaman, melalui pelaksanaan Try Out Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 secara gratis, bekerja sama dengan Ruang Guru, Jumat (10/4/2026).
Program yang digagas Dinas Pendidikan Kalteng ini menggandeng Ruang Guru untuk menghadirkan simulasi ujian berbasis komputer yang mendekati kondisi UTBK sesungguhnya.
“Saya sangat senang karena try out ini memberi gambaran ujian sebenarnya, membuat saya lebih percaya diri dan semakin semangat belajar,” ujar Fujianti, siswa SMAN 1 Dusun Utara.
Tak hanya memberi pengalaman, tingkat kesulitan soal juga dinilai mampu mengasah kemampuan peserta secara realistis.
“Try out ini sangat membantu, soal-soalnya cukup sulit sekitar 8,5 dari 10 dan aplikasinya mudah digunakan,” kata Keysa Fadila Nasiti dari SMAN 1 Timpah.
Simulasi yang disusun menyerupai UTBK asli juga memberi gambaran teknis yang jelas bagi siswa.
“Ada 160 soal dalam 3 jam seperti UTBK asli, jadi kami lebih siap dan paham cara mengerjakannya,” ungkap Cindy Antika Putri dari SMAN 1 Kota Besi.
Selain latihan teknis, program ini juga membantu siswa mengukur kemampuan diri secara objektif.
“Try out ini membantu kami mengetahui kemampuan dan menyadarkan pentingnya persiapan,” ujar Gugun Albertus.
Apresiasi juga datang dari siswa lain yang merasakan langsung dampak kesiapan setelah mengikuti kegiatan ini.
“Kami merasa lebih siap menghadapi UTBK berkat fasilitas try out ini,” kata Helvi Septian Saputra.
Dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi faktor penting dalam membuka akses yang lebih luas bagi siswa.
“Terima kasih atas dukungan pemerintah, program ini sangat membantu kami,” ucap Salma Olivia.
Bagi sebagian peserta, try out ini bukan sekadar latihan, tetapi juga alat ukur untuk memperbaiki kekurangan.
“Try out ini mengukur kemampuan secara objektif dan membantu saya memahami apa yang perlu diperbaiki,” jelas Mandala Jossi.
Harapan pun muncul agar program serupa terus berlanjut dan menjangkau lebih luas.
“Saya jadi lebih percaya diri dan termotivasi. Semoga kegiatan ini terus ada,” tutur Franugia Fersaly Inggie.
Program ini jelas memotong jurang akses antara kota dan pedalaman. Tapi pekerjaan belum selesai tantangan jaringan internet, ketersediaan perangkat, hingga pendampingan belajar di daerah terpencil masih jadi titik lemah. Kalau ini tidak dibereskan, try out gratis hanya jadi “sekali lewat” bukan solusi jangka panjang. (Polin.Rzn/MediaDisdikKalteng)