Ubah Paradigma dari Buang Jadi Olah, 27 RW Jaksel Adu Gagasan Kelola Sampah Berbasis Komunitas

Ubah Paradigma dari Buang Jadi Olah, 27 RW Jaksel Adu Gagasan Kelola Sampah Berbasis Komunitas
Pembina Relawan Bangkit Berdaya sekaligus anggota DPR RI daerah pemilihan DKI Jakarta II, Ida Fauziyah, menyampaikan sambutan pada Final Kegiatan Bebersih Kampung 2026 dengan Tema "Beres Sampahnya Berdaya Kampungnya".( Foto: IIS/Spektroom).

Jakarta - Spektroom: Persoalan sampah kini tidak lagi sekadar dibicarakan di balik meja kantor. Bertempat di Aula GOR Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, perwakilan dari 27 RW berkumpul untuk membawa cerita, gagasan, dan kebiasaan baru dari lingkungan mereka masing-masing dalam mengolah barang buangan menjadi solusi yang bermanfaat.

Para perwakilan ini merupakan finalis kompetisi Bebersih Kampung 2026 yang mengusung tema “Beres Sampahnya, Berdaya Kampungnya”. Dari total 579 RW di Jakarta Selatan, 27 RW tersebut berhasil terpilih setelah melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari administrasi, penguatan konsep, workshop, hingga pendampingan lapangan

Dalam gerakan ini, volume sampah tidak lagi hanya dihitung berdasarkan tonase, melainkan dipandang langsung dari hulunya, yaitu rumah tangga, halaman, gang, hingga lingkungan tempat warga beraktivitas sehari-hari.

Ketua Panitia Pelaksana Bebersih Kampung 2026, Ilham Syah, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari kesadaran bahwa sampah tidak harus selalu berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Kita percaya sampah itu bisa jadi penghasilan. Kita bisa mengelola sampah dan mengambil manfaatnya," ujar Ilham di lokasi acara.

Foto bersama para tamu undangan dan peserta Final Kegiatan Bebersih Kampung 2026 dengan Tema "Beres Sampahnya Berdaya Kampungnya".( Foto: IIS/Spektroom).

Kompetisi yang awalnya diikuti oleh 63 peserta ini nantinya akan menyaring 10 RW terbaik untuk ditetapkan sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Namun, esensi dari gerakan ini dinilai jauh lebih besar daripada sekadar memperebutkan penghargaan.

Camat Mampang Prapatan, Angga Saputra, menekankan bahwa tantangan mendasar yang sebenarnya dihadapi adalah mengubah budaya masyarakat dalam memilah sampah. Menurutnya, sampah yang sudah tercampur akan jauh lebih sulit untuk diolah kembali, sehingga perubahan pola pikir harus dimulai sejak dari dalam rumah.

Angga juga meminta agar pendampingan tetap diberikan kepada RW yang belum berhasil menjadi pemenang.

"Yang kalah pasti banyak kekurangan. Kekurangan itu harus dibantu," tegas Angga.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. "Bebersih kampung ini bukan urusan lurah, camat, wali kota, atau gubernur saja. Ini urusan kita semua.

Pandangan serupa disampaikan oleh Pembina Relawan Bangkit Berdaya sekaligus Anggota DPR RI Dapil DKI Jakarta II, Ida Fauziyah. Ia menilai perubahan lingkungan yang ideal harus tumbuh dari inisiatif masyarakat (bottom-up) baru kemudian diperkuat oleh kebijakan pemerintah.

Ida berharap komitmen pemerintah daerah terhadap isu strategis seperti lingkungan bisa terus ditingkatkan melalui keterlibatan aktif di lapangan. Ia juga mengungkapkan telah menyampaikan program ini kepada Gubernur DKI Jakarta, yang dijadwalkan hadir pada sesi grand final mendatang

Sebagai bentuk apresiasi dan stimulus, disediakan total hadiah senilai Rp1 miliar bagi 10 RT atau RW juara melalui kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Meski demikian, Ida menegaskan bahwa materi bukan tujuan akhir dari gerakan ini.

"Target utamanya (goals-nya) bukan sekadar menjadi juara, tetapi menumbuhkan semangat untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di daerah masing-masing," tutur Ida.

Berita terkait

Jawa Tengah Sukses Gelar MTQ Nasional Ke-31, DKI Jakarta Jadi Tuan Rumah Berikutnya

Jawa Tengah Sukses Gelar MTQ Nasional Ke-31, DKI Jakarta Jadi Tuan Rumah Berikutnya

Semarang- Spektroom: Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan pentingnya penguatan integritas, objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas untuk menjaga kualitas serta marwah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Hal tersebut disampaikannya saat menutup gelaran MTQ Nasional ke-31 Tahun 2026 di Lapangan Pancasila, Semarang, pada Sabtu malam (19/9/

Sigit Budi Riyanto, Heriyoko