Vedriq Leonardo: Dari Sungai Kapuas ke Puncak Dunia, Pahlawan Olahraga dari Kalbar
Spektroom – Setiap 10 November, bangsa Indonesia mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang bagi negeri.
Namun, pahlawan masa kini tidak selalu memanggul senjata.
Ada yang berjuang lewat keringat dan ketekunan di arena olahraga salah satunya Vedriq Leonardo, atlet panjat tebing asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengukir sejarah di Olimpiade Paris 2024.
"Kala itu, mata dunia tertuju padanya".
Di tengah kompetisi ketat antar atlet terbaik dunia, Vedriq berhasil menorehkan emas pertama Indonesia dari cabang olahraga perorangan di ajang Olimpiade.
Momen itu menjadi pelipur dahaga panjang bangsa akan kejayaan di panggung olahraga tertinggi dunia.
Pemuda lulusan PGSD Universitas Tanjungpura ini membuktikan bahwa kesuksesan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja keras, disiplin, dan doa.
“Dengan tekad kuat dibarengi doa, siapapun akan mampu menuju puncak kejayaan prestasi olahraga. Namun, butuh perjuangan ekstra keras dan tak mudah putus asa,” ujarnya di Pontianak, Senin (10/11/2025).
Setahun berselang sejak kemenangan bersejarah itu, ingatan publik tentang “Spiderman dari Kapuas” masih segar.
Vedriq bukan hanya simbol prestasi, tapi juga inspirasi bagi generasi muda bahwa mimpi besar bisa lahir dari tepian sungai di ujung negeri.
Namun, bagi Vedriq, predikat pahlawan olahraga tidak hanya milik atlet semata.
“Ada pelatih, tim pendukung, hingga para pemangku kebijakan yang terus mendorong kemajuan olahraga nasional. Mereka juga pahlawan,” katanya.
Pandangan serupa datang dari Ketua Pengprov POBSI Kalbar, MK Chandra, yang menilai banyak atlet Indonesia layak disebut pahlawan olahraga dari legenda bulutangkis Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma, hingga Vedriq Leonardo dari panjat tebing.
Ia menegaskan, prestasi gemilang lahir dari proses panjang dan kedisiplinan sejak usia dini.
Chandra juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap atlet setelah pensiun.
“Perlu pembekalan agar mereka punya jiwa wirausaha dan tetap produktif di masa tua,” ujarnya.
Ia mengapresiasi langkah negara yang kini lebih peduli, dengan membuka peluang bagi para atlet berprestasi menjadi ASN atau bekerja di BUMN.
Dari medali emas hingga perjuangan setelah pensiun, kisah Vedriq dan para atlet lainnya mengajarkan satu hal: menjadi pahlawan tak harus di medan perang.
Kadang, cukup dengan mendaki tebing kehidupan, menaklukkan rintangan, dan mengibarkan merah putih di puncak dunia.