Widodo Hastjarjo: RRI Terus Bertransformasi Digital, Seni Tradisi Tetap Dipertahankan
Surakarta-Spektroom : Memasuki usia ke-81 tahun, Radio Republik Indonesia (RRI) dinilai terus menunjukkan kematangan dalam menghadapi perkembangan teknologi dan memperluas jangkauan siaran untuk semakin merepresentasikan keberagaman Indonesia.
Kepala Monumen Pers Nasional Surakarta Widodo Hastjarjo menyampaikan apresiasinya terhadap perjalanan RRI yang terus berkembang seiring perubahan zaman. Ia berharap RRI semakin mampu mengambil peran dalam membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Selamat ulang tahun ke-81 RRI, Suara Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur. Makin beriringan waktu, kedewasaan RRI dan jangkauan perluasan coverage-nya makin merepresentasikan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Widodo kepada Spektroom, usai menghadiri acara penyulutan obor Tri Prasetya dalam rangka memperingati HUT ke-81 RRI, di Auditorium Sarsito Mangunkusumo RRI Surakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, perkembangan era digital telah mendorong transformasi RRI berlangsung sangat cepat. Peralatan dan teknologi baru memberikan peluang bagi RRI untuk tidak hanya menghadirkan siaran radio konvensional, tetapi juga mengembangkan konten digital seperti podcast.
“Era digitalisasi, transformasi RRI menjadi sangat cepat. Transisi dari analog ke digital luar biasa sekali, termasuk adanya peralatan yang bisa mendukung podcast,” katanya.
Meski terus bergerak menuju era digital, Widodo menilai RRI Surakarta tetap memiliki kekuatan dalam mempertahankan seni tradisi.
Kehadiran pentas wayang orang dan ketoprak menjadi contoh bagaimana seni budaya dapat tetap hidup dan dikemas dengan dukungan teknologi.
“Untuk RRI Surakarta itu ada pentas wayang orang maupun ketoprak. Itu tampilan luar biasa. Seni tradisi didukung teknologi menuju era digital,” tegasnya.
Widodo berharap perkembangan teknologi tidak membuat RRI meninggalkan karakter dan kekuatan budayanya. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan seni tradisi dan memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas. (Ciptati Handayani)