141 Tahun Stasiun Slawi, Ketika Perjalanan Menjadi Bagian dari Kehidupan
Slawi-Spektroom : Kereta datang dan berhenti di Stasiun Slawi. Beberapa penumpang turun membawa tas dan barang bawaan. Sebagian lainnya bersiap naik, mengejar tujuan masing-masing.
Ada yang hendak bekerja, bersekolah, berdagang, berobat, atau sekadar mengunjungi keluarga.
Bagi mereka, stasiun mungkin hanya menjadi tempat singgah dalam perjalanan. Namun bagi Slawi, tempat ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama 141 tahun.
Stasiun Slawi mulai beroperasi pada 1885 sebagai bagian dari jalur Tegal–Slawi–Prupuk. Pada masa itu, kereta api berperan mengangkut berbagai hasil bumi dari wilayah sekitar, seperti gula, teh, dan tembakau.
Seiring waktu, wajah perjalanan berubah. Hasil bumi yang dahulu mendominasi angkutan kini berganti dengan mobilitas manusia.
Kereta api menjadi penghubung masyarakat Slawi dengan berbagai kota.
Saat ini, Stasiun Slawi melayani delapan perjalanan kereta api setiap hari melalui KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto. Meningkatnya jumlah penumpang menunjukkan bahwa peran tersebut masih dibutuhkan.
Pada 2023, rata-rata volume penumpang yang berangkat dan datang mencapai 16.671 orang per bulan. Angka itu meningkat menjadi 18.209 orang pada 2024 meningkat 20.904 orang pada 2025.
Pada tahun 2026 selama 7 bulan (hingga Juli), rata-rata volume penumpang mencapai 23.417 orang per bulan. Dibandingkan 2023, jumlah tersebut tumbuh sekitar 40 persen.
Namun cerita stasiun tidak hanya terlihat dari jumlah penumpang.
Setiap kereta yang datang turut menggerakkan aktivitas di sekitarnya. Warung makan, kios, pedagang makanan, hingga pengemudi ojek, becak, dan angkutan umum ikut mengambil manfaat dari mobilitas penumpang.
Kuliner khas seperti tahu aci, kerupuk antor, dan teh poci juga menjadi bagian dari pengalaman mereka yang datang ke Slawi. Tradisi “moci”, menikmati teh menggunakan poci tanah liat, menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Tegal.
Stasiun Slawi juga menjadi pintu menuju sejumlah destinasi di Kabupaten Tegal, termasuk Wisata Alam Guci dan Taman Rakyat Slawi Ayu.
Di balik aktivitas itu, Stasiun Slawi menyimpan catatan sejarah lain. Pada 2005, stasiun ini tercatat sebagai stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sistem persinyalan elektrik buatan dalam negeri.
“Pertumbuhan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api,” ujar Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin.
141 tahun bukan sekadar usia bagi Stasiun Slawi. Ia adalah rekaman perjalanan banyak orang—datang, pergi, mengejar tujuan, lalu kembali membawa cerita.
Dan selama kereta masih berhenti di peronnya, perjalanan itu akan terus berlanjut.