180 Baju Milik dari Nagari Padang Magek Jadi Magnet Festival Minangkabau 2026, Warisan Budaya yang Memukau Ribuan Pengunjung

180 Baju Milik dari Nagari Padang Magek Jadi Magnet Festival Minangkabau 2026, Warisan Budaya yang Memukau Ribuan Pengunjung
180 Baju Milik dari Nagari Padang Magek Jadi Magnet Festival Minangkabau 2026, Warisan Budaya yang Memukau Ribuan Pengunjung. (Foto: Prokopim TD)

Tanah Datar–Spektroom : Festival Minangkabau 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata, tetapi juga panggung bagi berbagai warisan adat yang masih lestari di tengah masyarakat. Salah satu yang paling menyita perhatian pengunjung pada hari pembukaan, Kamis (25/6/26), adalah penampilan sekitar 180 Baju Milik dari Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar.

Busana adat perempuan khas Nagari Padang Magek tersebut tampil mencolok di kawasan Istano Basa Pagaruyung, lokasi utama pembukaan Festival Minangkabau 2026. Kehadirannya langsung menarik perhatian ribuan pengunjung yang memadati kawasan istana kebanggaan masyarakat Minangkabau itu.

Baju Milik merupakan pakaian adat yang menjadi kebanggaan masyarakat Nagari Padang Magek dan hingga kini masih digunakan dalam berbagai upacara adat penting seperti batagak gala, pesta pernikahan, dan berbagai kegiatan adat lainnya.

Busana tersebut terdiri dari beberapa elemen khas, yakni tangkuluak (penutup kepala), baju hitam, rok hitam, selendang, ikat pinggang, serta kambuik bajaik yang menjadi pelengkap utama.

Di balik tampilannya yang elegan, Baju Milik memiliki makna filosofis yang mendalam. Pakaian adat ini melambangkan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang berpegang teguh pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Selain itu, keberadaannya mencerminkan nilai adat yang tetap kokoh dan relevan sepanjang zaman, sebagaimana ungkapan Minangkabau “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan” yang berarti tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Kemegahan pembukaan Festival Minangkabau juga diwarnai dengan penampilan Tari Kolosal Saribu Katidiang Saok dari Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru.

Pertunjukan budaya tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda hingga para Bundo Kanduang, sehingga menghadirkan kolaborasi lintas generasi yang memukau penonton.

Gerakan tari menggambarkan kuatnya semangat gotong royong yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau, khususnya dalam menjaga adat dan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari pengunjung karena mampu menghadirkan perpaduan antara seni pertunjukan dan pesan budaya yang kuat.

Beberapa tradisi yang diperagakan antara lain turun mandi, maanta marapulai, managuah, hingga mamanis-manisi anak, yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian atraksi budaya tersebut ditutup dengan tari kolosal multi-etnik dari Nagari Baringin, yang semakin memperkuat nuansa kebhinekaan budaya dalam satu kesatuan identitas Minangkabau.

Selain pertunjukan budaya, kawasan Lapangan Cindua Mato (LCM) Batusangkar juga menjadi salah satu pusat perhatian pengunjung Festival Minangkabau 2026.

Di lokasi tersebut, selain terdapat stan kecamatan dan produk unggulan daerah, tersedia pula area khusus yang menyajikan aneka kuliner tempo dulu yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Minangkabau.

Beberapa makanan tradisional yang disuguhkan antara lain karupuak leak, pinukuik tampuruang, lompong sagu, godok ubi, serta berbagai jajanan khas lainnya yang kini mulai jarang ditemukan.

Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama sejumlah tamu undangan bahkan menyempatkan diri mencicipi karupuak leak dan aie aka yang disajikan di salah satu stan kuliner tradisional.

Menurut Eka Putra, kehadiran kuliner warisan leluhur dalam Festival Minangkabau memiliki tujuan penting, yakni menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Inilah salah satu tujuan pelaksanaan Festival Minangkabau ini. Panganan atau makanan kuliner tempo dulu disajikan di sini. Selain mengobati kerinduan, juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat dan UMKM,” ujar Eka Putra.

Festival Minangkabau 2026 dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai 25 hingga 28 Juni 2026, dengan berbagai agenda budaya, pameran, pertunjukan seni, promosi desa wisata, hingga bazar UMKM.

Dengan ragam atraksi budaya, kuliner tradisional, dan hiburan rakyat yang disajikan, Festival Minangkabau 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu event budaya terbesar di Sumatera Barat sekaligus etalase kekayaan tradisi Minangkabau yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Berita terkait

Kemenag Malut Salurkan 929 Paket Santunan Lebaran Yatim dan Disabilitas Peaceful Muharam 1448 H

Kemenag Malut Salurkan 929 Paket Santunan Lebaran Yatim dan Disabilitas Peaceful Muharam 1448 H

Sofifi - Spektroom : Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara turut menyukseskan pelaksanaan Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas Tahun 2026 yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia dalam rangka memperingati Bulan Muharram 1448 Hijriah melalui program Peaceful Muharam yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Kamis

Nanang Adrany, Afrizal Aziz
Gubernur NTB Pastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Siap Benahi Jalan Warga

Gubernur NTB Pastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Siap Benahi Jalan Warga

Lombok Barat-Spektroom : Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Muhamad Iqbal, turun langsung menyisir Desa Mekarsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Kamis (25/6/2026), untuk memastikan Program Desa Berdaya benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat miskin ekstrem. Peninjauan itu sekaligus menjadi evaluasi lapangan guna mengidentifikasi hambatan yang masih perlu diintervensi agar

Marsam Putrangga, Julianto