Akademisi UNS : Rendahnya Nilai Matematika Siswa Di Indonesia Karena Sistem Pendidikan Tidak Sinkron
Spektroom - Nilai rata-rata mata pelajaran Matematika siswa Indonesia dalam Tes Kemampuan Akademik - TKA 2025 dinilai tergolong rendah hanya menyentuh angka 36,10 dan Jawa Tengah sebesar 37,56, bahkan dalam Skor Tes Internasiol - PISA menempatkan Indonesia di papan bawah dengan angka 366, jauh tertinggal rata rata dunia sebesar 472.
Diminta tanggapan berkait rendahnya nilai matematika, Dosen Matematika FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sutanto. menilai jebloknya nilai numerasi ini merupakan bukti valid kompetensi matematika siswa secara nasional menghawatirkan, dan sebagai konsekuensi logis dari sistem pendidikan yang tidak sinkron.
Menurut Sutanto, faktor ketidaksinkronan (mismatch) antara materi yang diajarkan di kelas dengan standar soal yang diujikan, dimana dicontohkan soal TKA yang menuntut kemampuan analisis tinggi (Higher Order Thinking Skill/HOTS), sementara metode pembelajaran di kelas masih terjebak pada hafalan (rote learning).
"Di soal TKA, siswa disuruh menganalisis volume air mengikuti persamaan eksponensial. Ini soal analitik. Sementara di kelas, metode pembelajarannya masih Lower Order Thinking Skill. Kurikulum dan gurunya tidak salah, tapi keduanya tidak disiapkan menghadapi model tes analitik seperti TKA, jadi tidak match," Jelas Sutanto, ( Senin 29/12/2025 ).
Sedang dari sisi aspek Psikologis siswa , menurut Sutanto sebagian besar menganggap matematika sebagai "momok" atau "film horor". Sehingga sindrom ketakutan massal terhadap angka karena penyampaian materi yang tidak menyenangkan sejak dini terjadi.
Konsep numerasi seharusnya bisa diajarkan melalui hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti konsep keliling melalui aktivitas berlari di lapangan.
Sebagai akademisi yang pernah menjadi konsultan program literasi numerasi di Malaysia, Sutanto juga membandingkan kondisi Indonesia dengan negara tetangga Malaysia yang lebih sistematis melalui program Linus (Literasi Numerasi) yang mengacu pada standar internasional.
Sementara di Indonesia dianggap melakukan langkah sporadis dengan langsung menerapkan TKA tanpa perbaikan metode belajar yang mendasar, selain juga diperparah dampak pandemi Covid-19 yang menciptakan learning loss signifikan.
"Metode pengajaran yang tidak nyambung, sindrom ketakutan siswa, dan dampak sisa pandemi menjadi penyebab utama mengapa skor matematika kita sulit beranjak dari angka merah," Jelasnya. (Dan)