Aktivitas Gunung Semeru Jadi Sasaran Konten Hoax, Cek Data Resmi PVMBG
Lumajang-Spektroom : Aktivitas Gunung Semeru kini jadi sasaran konten hoax atau informasi tidak benar. Sejumlah konten di media sosial dan platform berbagi video menyebut Gunung Semeru "meletus dahsyat", "memicu kepanikan hingga puluhan kilometer", bahkan dikaitkan dengan banjir lahar dan kerusakan permukiman. Hal ini perlu disikapi secara bijak dengan mengedepankan informasi dari sumber resmi.
Berdasarkan hasil penelusuran terhadap laporan aktivitas Gunung Semeru yang diterbitkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), informasi tersebut tidak sesuai dengan data resmi yang dirilis pada periode pengamatan 10–11 Juni 2026.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait kebencanaan yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
"Informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru sebaiknya mengacu pada sumber resmi yang dikeluarkan PVMBG, Badan Geologi, BPBD, BNPB, maupun pemerintah daerah. Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada dan mengikuti rekomendasi yang berlaku," ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan laporan PVMBG periode pengamatan 10 Juni 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, Gunung Semeru masih berstatus Level III (Siaga). Secara visual, petugas mengamati tujuh kali letusan dengan tinggi kolom asap berkisar 500 hingga 1.000 meter di atas puncak. Sementara pada periode pengamatan 11 Juni 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, teramati dua kali letusan dengan tinggi kolom asap sekitar 500 hingga 600 meter.
Laporan resmi tersebut juga tidak mencantumkan adanya kejadian luar biasa seperti banjir lahar besar, kerusakan permukiman, maupun peningkatan status aktivitas gunung api. Pada bagian keterangan lain, PVMBG mencatat "nihil" atau tidak terdapat informasi tambahan terkait kejadian yang menonjol.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan PVMBG. Warga tidak diperkenankan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak, serta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar pada aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.
Menurut Isnugroho, literasi informasi menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi bencana. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan kepanikan yang tidak diperlukan.
"Di era digital saat ini, masyarakat perlu membiasakan diri untuk memeriksa sumber informasi sebelum membagikannya. Informasi yang benar akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat, sedangkan informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan keresahan," katanya.
BPBD Kabupaten Lumajang mengajak masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Semeru melalui kanal resmi PVMBG, Badan Geologi, BPBD, BNPB, serta pemerintah daerah. Sikap tenang, waspada, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terkonfirmasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
Melalui pemahaman yang benar terhadap informasi kebencanaan, masyarakat diharapkan semakin cerdas dalam memilah informasi, sehingga upaya mitigasi bencana dapat berjalan lebih efektif dan kondusif.
(Sumber: Diskominfo Lumajang)