Aparat Kepolisian Dituntut Miliki Kemampuan Identifikasi Korban secara Cepat dan Akurat
Padang–Spektroom : Ancaman bencana yang selalu membayangi wilayah Indonesia menuntut aparat kepolisian memiliki kemampuan identifikasi korban yang cepat, akurat, dan sesuai standar internasional. Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Kasi Dokkes Polres Sawahlunto Aipda Yuli Erwati B., Amd.Kep. mengikuti Pelatihan dan Simulasi Disaster Victim Identification (DVI) yang digelar Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sumatera Barat di Mapolda Sumbar, Kamis (23/7/2026).
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Polda Sumbar meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana alam maupun kejadian luar biasa yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa.
Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali kemampuan teknis mengenai prosedur Disaster Victim Identification (DVI), mulai dari penanganan awal korban, proses identifikasi berbasis data ilmiah, hingga koordinasi lintas sektor agar proses evakuasi dan identifikasi dapat berlangsung cepat, tepat, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Biddokkes Polda Sumbar menyebutkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi personel sekaligus memperkuat sinergi antarinstansi dalam pelaksanaan identifikasi korban bencana secara terpadu sesuai prosedur operasional yang berlaku.
Kasi Dokkes Polres Sawahlunto Aipda Yuli Erwati mengatakan pelatihan tersebut menjadi bekal penting bagi personel kesehatan Polri dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan penanganan profesional.
"Pelatihan ini memberikan pengalaman sekaligus memperkuat kemampuan teknis kami dalam proses identifikasi korban bencana. Ilmu yang diperoleh akan menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pelayanan kepada masyarakat apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat," ujar Yuli Erwati usai mengikuti kegiatan.
Menurutnya, kemampuan DVI tidak hanya dibutuhkan saat terjadi bencana alam berskala besar, tetapi juga dalam berbagai peristiwa yang menimbulkan korban massal sehingga memerlukan proses identifikasi secara akurat demi kepastian hukum dan kemanusiaan.
Pelatihan tersebut juga menjadi sarana memperkuat koordinasi antara unsur kepolisian, tenaga medis, rumah sakit, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, serta instansi terkait lainnya. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi faktor penting agar proses identifikasi korban dapat dilakukan secara cepat tanpa mengabaikan standar profesional.
Pendekatan DVI sendiri merupakan metode identifikasi korban yang diakui secara internasional. Prosesnya melibatkan pencocokan data medis, sidik jari, rekam gigi, hingga pemeriksaan DNA apabila diperlukan. Metode ini bertujuan memastikan identitas korban secara ilmiah sehingga dapat memberikan kepastian kepada keluarga sekaligus mendukung proses hukum apabila dibutuhkan.
Keikutsertaan personel Polres Sawahlunto dalam pelatihan ini juga mencerminkan komitmen Polri untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang kedokteran kepolisian. Dengan kemampuan yang semakin terasah, diharapkan respons terhadap situasi bencana maupun insiden yang melibatkan korban massal dapat dilakukan secara lebih profesional, cepat, dan humanis. (Ris1)