Aroma Tomat Polandia : Perjuangan Penjual Bubur Kacang Hijau Mengubah Nasib Keluarga
Jakarta - Spektroom : Di tengah hiruk-pikuk dan kerasnya kehidupan kota Jakarta, ada sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang tanpa kenal lelah.
Selama 28 tahun, seorang bapak dengan setia mendorong gerobak bubur kacang hijau menyusuri jalanan. Panas terik dan hujan badai ia lewati demi satu tujuan mulia, memastikan masa depan anak-anaknya lebih cerah.
"Sejak 1998 jualan di Jakarta. Masih Rp500 sekarang Rp 5000 per mangkok bubur kacang hijau" kata Selamet saat berteduh di Pos RW di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Jakarta pada akhir pekan Sabtu (16/5/2026) siang, tak membuat Selamet putus asa.
"Alhamdulilah udah habis buburnya. Tadi jam 06.30 Wib dagang keliling komplek perumahan " ucapnya kepada Spektroom.
Warga Cirebon, Jawa Barat ini menuturkan, nanti pulang dagang belanja ke pasar untuk esok pagi jualan. Tengah malam hingga dini hari ia menyiapkan keperluan dagangnya dibantu Istri.
Pedagang berusia 50 tahun ini dikaruniai anak lima. Tiga diantaranya pria. Ia bersama istri mengontrak tempat berteduh di Duren Sawit. Anaknya di Cirebon karena biaya pendidikan dan kebutuhan lainnya mahal di Jakarta.
"Dulu sewa Rp 300 ribu sepetak kamar per bulan, Sekarang Rp700 ribu. Penghasilan per hari Rp150 ribu hingga Rp200 ribu dari 2,5 Kilogram bubur kacang hijau yang dijual" imbuhnya sambil menatap langit masih diselimuti mendung dan hujan.
Setiap mangkuk bubur kacang hijau yang ia jual bukan sekadar rupiah, melainkan tabungan masa depan dan tetes keringat perjuangan.
Berkat ketabahan dan disiplinnya mengelola penghasilan, ia tidak hanya mampu menyambung hidup sehari-hari, tetapi juga membiayai pendidikan anaknya hingga berhasil meraih mimpi bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia ( PMI)
Tekad bulat dengan niat lurus sang anak yang hanya jebolan SMP karena sulitnya lapangan kerja di kampung, membuat Selamet berusaha cari Informasi agar anaknya tidak ilegal meninggalkan Cirebon.
"Alhamdulilah Anak paling besar kerja di kebun Tomat, Polandia. Saya bantu biaya puluhan juta setelah lulus tes melalui pengerah tenaga kerja resmi" ungkapnya
Kini, kerja keras sang bapak membuahkan hasil manis. Anaknya telah sukses menembus batas negara dan bekerja di perkebunan tomat modern di Polandia.
"Hampir 5 tahun, ya udah beli rumah di kampung. sekitar 20 juta per bulan upahnya di Polandia sekarang " Jelasnya
Dari gerobak dorong sederhana di sudut jalan, sang anak kini memetik buah tomat di Benua Eropa.
"Bersyukur anak paling besar udah bisa bantu sekolah adiknya dan keluarga di kampung. Ya mudah - mudahan bisa bawa diri tak tergoda yang kurang baik di negeri orang" pungkas Selamet sambil bersiap mendorong gerobak bubur kacang untuk pulang ke sepetak kontrakannya karena hujan sedikit reda jelang pukul 14.00 Wib
Kisah ini membuktikan bahwa profesi apapun yang dijalani dengan halal dan penuh dedikasi, akan selalu membawa berkah.
Ketulusan sang bapak dalam mencari nafkah telah menjadi pupuk yang menyuburkan kesuksesan anaknya di negeri seberang.