Babak Baru Green Batik Pekalongan: Kolaborasi Kampus dan Belanda Tekan Pencemaran Limbah
Pekalingan - Spektroom: Program Green Batik Pekalongan memasuki tahun kedua dengan meluncurkan Green Batik Centre di Universitas Pekalongan (UNIKAL) dan menggelar pameran Green Batik Exhibition di Museum Batik Pekalongan pada Jumat (23/10/2026) malam. Langkah ini menandai penguatan gerakan batik berkelanjutan yang melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta konsorsium dari Belanda.
Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, menyampaikan bahwa persoalan limbah dan krisis air di wilayahnya memerlukan penanganan serius. Pengambilan air tanah secara terus-menerus dikhawatirkan memperparah penurunan muka tanah, sementara limbah produksi yang belum diolah maksimal berpotensi mencemari lingkungan.
"Filosofi kalau air sungai di Pekalongan airnya hitam berarti pembatik sejahtera, kita tidak mau ada lagi. Perajin batik sekarang harus mulai menerapkan produksi bersih," ujar Balgis Diab dalam keterangannya.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Marc Gerritsen, mengapresiasi langkah kolaboratif tersebut. Ia menilai penyelamatan lingkungan harus berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi budaya. Sejak Januari 2025, program ini telah memperkenalkan intervensi teknis kepada para perajin, seperti sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting), efisiensi air, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar air dapat digunakan kembali.
Hingga Oktober 2026, program ini telah merangkul 10 Batik Champion dari 10 sentra produksi (prangkok) di Pekalongan. Selain itu, empat pelaku usaha batik yang dinilai konsisten menerapkan prinsip produksi hijau turut menerima Sertifikat Industri Hijau pada peresmian tersebut.